Kenali Penyakit: Ulkus Dekubitus

Ulkus dekubitus merupakan cedera kulit dan jaringan lunak yang terbentuk akibat tekanan konstan yang diberikan pada kulit. Ulkus ini bisa terjadi di area tulang tubuh seperti pelvis, tulang paha, tulang punggung, tumit, dan tonjolan bulat pada tulang kaki. Ulkus dekubitus bisa juga dikatakan sebagai kerusakan jaringan setempat pada kulit maupun jaringan yang ada dibawahnya akibat adanya tekanan ataupun kombinasi antara tekanan dengan pergeseran pada bagian tubuh yang menonjol.

Ulkus biasa terjadi akibat gangguan alirah darah setempat serta keadaan umum dari penderita. Sedangkan dekubitus merupakan kerusakan atau kematian kulit hingga jaringan dibawah kulit, bahkan bisa menembus otot hingga mengenai tulang karena terdapat penekanan di suatu area secara terus menerus sehingga bisa mengakibatkan gangguan pada sirkulasi darah setempat. Meskipun semua bagian tubuh bisa mengalami kerusakan ataupun kematian kulit hingga jaringan, resiko tertinggi itu bisa terjadi terutama di bagian bawah tubuh dan itu membuat kita harus mempunyai perhatian khusus terhadap hal tersebut. Area kulit maupun jaringan yang biasa mengalami kerusakaan adalah di atas tonjolan tulang dan tidak dapat perlindungan khusus dari lemak subkutan 2.

Usia yang lanjut mempunyai potensi yang lebih besar untuk mengalami kematin kulit ataupun kerusakan jaringan dikarenakan perubahan kulit berkaitan dengan bertambahnya usia, antara lain :

  1. Berkurangnya jaringan kolagen dan elastin
  2. Berkurangnya jaringan lemak dan subkutan
  3. Turunnya efisiensi kolateral dan kapiler pada kulit sehingga kulit akan lebih tipis dan rapuh

Faktor Resiko  

Ulkus dekubitus yang bisa dikatakan sebagai kematian kulit atau kerusakan jaringan memiliki faktor resiko yang tinggi dan hal ini bisa ditemukan pada :

  1. Orang yang tidak bisa merasakan nyeri, karena nyeri merupakan suatu tanda yang mendorong seseorang untuk bergerak. Hal yang membuat kemampuan untuk merasakan nyeri jadi berkurang adalah koma dan kerusakan saraf
  2. Orang yang tidak bisa bergerak seperti lumpuh dan dipasung
  3. Orang yang mengalami kekurangan gizi atau malnutrisi tidak mempunyai lapisan lemak sebagai pelindung dan kulit tidak bisa mengalami pemulihan yang sempurna karena kekurangan zat gizi yang penting.

Pencegahan

  1. Mengurangi faktor tekanan yang mengganggu aliran darah seperti tidur selang seling paling lama tiap dua jam
  2. Kasur gelembung atau kasur air untuk membagi rata tekanan yang terjadi
  3. Mengurangi regangan dan lipatan kulit yang menyebabkan sirkulasi darah terganggu
  4. Melakukan perawatan kulit dua kali sehari, pagi dan sore
  5. Mengurangi penggunaan kassa berbentuk donat di tumit

Penatalaksanaan

Pengobatan ulkus dekubitus itu sendiri bisa dilakukan dengan pemberian bahan topikal, sistemik, ataupun bedah yang dilakukan secepat mungkin agar reaksi dari penyembuhan terjadi lebih cepat.

  1. Mengurangi tekanan yang berkelanjutan pada daerah ulkus, ini sangat penting karena ulkus tidak akan sembuh apabila masih terdapat tekanan yang berlebihan secara terus menerus
  2. Menjaga serta memastika daerah ulkus dan sekitarnya dalam keadaan bersih, hal ini akan membuat proses penyembuhan luka lebih cepat dan baik
  3. Mengangkat jaringan yang telah mati atau mengalami kerusakan, adanya kerusakan jaringan pada ulkus membuat aliran bebas dari bahan yang terinfeksi terhambat sehingga akan menghambat pembentukan jaringan yang terbentuk dari pembekuan darah dan penutupan jaringan sebagai proses penyembuhan luka
  4. Mengatasi infeksi dengan menggunakan antibiotik sistemik
  5. Membantu serta merangsang proses pertumbuhan sel dan penutupan epidermis untuk mempercepat penyembuhan luka
  6. Melakukan tindakan bedah untuk pembersihan ulkus untuk mempercepat penyembuhan dan penutupan ulkus. Tindakan lainnya mungkin diperlukan juga.

Daftar Pustaka

  1. Iin Novita. 2019. Pencegahan dan Tatalaksana Dekubitus Pada Geriatri. Jurnal UMS Biomedika, Volume 11 No. 1
  2. Levine JM. Historical perspective on pressure ulcers: the decubitus ominosus of Jean-Martin Charcot. J Am Geriatr Soc. 2005 Jul;53(7):1248-51.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X
Selamat Datang di Chat Dokter Online
Selamat Datang di Chat Dokter Online