Kenali Penyakit : Trombosis Vena Dalam

Trombosis vena dalam merupakan salah satu penyakit yang menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas di seluruh dunia, terutama di Amerika Serikat dan negara-negara barat, yang untungnya dapat dicegah. Trombosis vena dalam termasuk ke dalam bagian dari penyakit tromboemboli vena yang diperkirakan insidennya mencapai 1 per 1000 orang per tahunnya, trombosis vena dalam terhitung sekitar 2/3 dari insiden penyakit tromboemboli vena. Penyakit ini memiliki komplikasi yang cukup menakutkan, yaitu emboli paru. Emboli paru terjadi pada sepertiga kasus dan merupakan kontributor utama dari kematian.

            Penyakit ini merupakan kondisi dimana terdapat penggumpalan darah atau trombosis di pembuluh darah vena dalam. Penyakit trombosis vena dalam ini sebetulnya belum terlalu jelas penyebabnya. Trombosis vena dalam merupakan penyakit yang terjadi dengan adanya faktor-faktor resiko pada saat yang sama. Tidak jarang juga, penyakit ini bersifat keturunan dan sudah berlangsung cukup lama lalu diperberat oleh cara hidup atau pola hidup yang kurang baik. Akan tetapi, penyakit ini (Trombosis vena dalam) telah disaring faktor-faktornya menjadi tiga oleh Rudolf Virchow, yaitu abnormalitas aliran darah, cedera pada dinding pembuluh darah, dan komponen faktor koagulasi atau penggumpalan darah. Ketiga faktor tersebut disebut sebagai Virchow’s Triad.

            Gejala-gejala dari trombosis vena dalam mencakupi perubahan pada warna kaki menjadi bewarna pucat, merah, atau lebih gelap, kaki terasa hangat, terasa nyeri pada kaki terutama saat penderita menekukkan kaki, bengkak pada kaki, dan kram pada bagian kaki. 

            Pengobatan dari trombosis vena dalam bertujuan untuk  mencegah terjadinya trombosis yang berulang, emboli paru akut, trombus, dan munculnya komplikasi-komplikasi dari trombosis vena dalam, seperti post thrombotic syndrome (PTS) dan hipertensi pulmonal. Terapi antikoagulan sangat penting untuk pengobatan DVT. Dengan beberapa pengecualian, terapi standar untuk DVT adalah antagonis vitamin K (VKA) seperti warfarin dengan heparin atau bridging heparin terfraksionasi. Baru-baru ini, sejumlah uji klinis skala besar telah memvalidasi penggunaan antikoagulan oral langsung (DOAC) sebagai pengganti warfarin dalam kasus tertentu.

            Penggunaan unfraction heparin (UFH) merupakan pilihan yang utama untuk penyakit trombosis vena dalam akut dan sebagai terapi awal sebelum pemberiaan antikoagulan oral. Antikoagulan adalah sebuah senyawa yang memiliki fungsi untuk mencegah terjadinya penggumpalanpada darah. Unfraction heparin (UFH) merupakan pengencer darah yang bekerja dengan antitrombin, protein alami yang ada di dalam tubuh, untuk memblokir terjadinya pembentukan gumpalan darah pada pembuluh darah. Dosis dari pemberian unfraction heparin (UFH) adalah heparin 5000 unit intra vena. Lalu, dilanjutkan dengan drip heparin 10.000 unit di dalam 50 cc NaCl 0,9% menggunakan syringe pump dengan kecepatan 5cc/jam. Lalu, dilakukan pemeriksaan PT dan aPTT setiap 6 jam selama 7 hari. Pemeriksaan Protrombin Time (PT) dan Activated Partial Thromboplastin Time (aPTT) merupakan nilai yang dibutuhkan untuk mengetahui proses pembekuan darah (dihitung di dalam satuan detik). Nilai yang diharapkan dari nilai Pemeriksaan Protrombin Time (PT) dan Activated Partial Thromboplastin Time (APTT) adalah adanya peningkatan nilai aPTT 1,5- 2,5 kali. Bila nilai awal dari Activated Partial Thromboplastin Time (APTT) sudah meningkat, perlu dimonitor kadar dari heparin plasma.

            Pada penggunaan terapi antikoagulan oral atau obat-obat yang dimakan, obat-obat yang biasa digunakan adalah heparin dan warfarin. Salah satu obat antikoagulan oral, yaitu warfarin dapat dimulai penggunaannya pada pre-operasi atau sebelum operasi, saat operasi, dan pasca-operasi atau setelah operasi sebagai pencegahan tromboemboli vena. Warfarin tidak boleh digunakan atau dipakai oleh pasien yang sedang hamil karena warfarin dapat melewati pelindung plasenta dan menyebabkan kecacatan serta perdarahan pada fetus. Akan tetapi, obat ini boleh digunakan pada orang yang sedang menyusui karena tidak bercampur dengan air susu. Selain warfarin, dapat juga digunakan heparin yang lebih aman untuk digunakan oleh ibu yang sedang hamil dan laktasi.

Referensi :

Andriani, Rinni dan Irza Wahid. 2018. Defisiensi Protein S pada Trombosis Vena Dalam.            Jurnal Kesehatan Andalas.

Arum, Ima. 2013. Trombosis Vena Dalam. Jurnal Kedokteran. 2(1) : 43-51

Stone, J., Hangge, P., Albadawi, H., Wallace, A., Shamoun, F., Knuttien, M. G., Naidu, S., &      Oklu, R. (2017). Deep vein thrombosis: pathogenesis, diagnosis, and medical           management. Cardiovascular diagnosis and therapy7(Suppl 3), S276–S284.        https://doi.org/10.21037/cdt.2017.09.01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X
Selamat Datang di Chat Dokter Online
Selamat Datang di Chat Dokter Online