Kenali Penyakit: Torsio Testis (Testis Terkilir)

Torsio testis atau biasa disebut juga dengan testis terkilir adalah keadaan gawat darurat berupa merotasinya sumbu longitudinal korda spermatica yang akhirnya mengakibatkan penyumbatan aliran darah testis. Korda spermatica pada testis bertanggung jawab untuk mengalirkan darah menuju testis, apabila saluran ini terpelintir atau terjepit maka akan mengakibatkan sumbatan aliran darah menuju testis.

Angka kejadian torsio testis yaitu 1:4000 laki-laki pada usia <25 tahun. Torsio testis dapat terjadi pada usia berapapun, tetapi paling sering pada usia 12-16 tahun. Testis terletak di dalam scrotum dengan aksis panjang pada sumbu vertikal dan biasanya testis kiri terletak lebih rendah di banding kanan sehingga lazimnya sisi sebelah kiri yang lebih sering terjadi torsio.

Pasien-pasien dengan torsio testis dapat mengalami gejala berupa: (1) scrotum yang membengkak pada salah satu sisi; (2) nyeri hebat mendadak pada salah satu testis; (3) mual ataupun muntah; (4) sakit kepala ringan. Gejala-gejala lain yang jarang ditemukan pada pasien torsio testis adalah rasa panas dan terbakar saat buang air kecil.

Torsio testis disebabkan oleh bell clapper deformity yaitu keadaan tidak memadainya ikatan dari testis dan epididimitis ke skrotum. Kontraksi otot lurik yang ditemukan di kanalis inguinalis dan skrotum yang berlebihan juga dapat menyebabkan torsio testis. Keadaan-keadaan yang menyebabkan pergerakan yang berlebihan antara lain adalah  perubahan suhu  yang mendadak atau trauma yang mengenai skrotum. Selain berkaitan dengan kelainan anatomi, dalam beberapa penelitian terkini menyebutkan bahwa faktor keturunan juga diperkirakan memiliki pengaruh sebesar 11.4% terhadap risiko terjadinya torsio testis. Faktor hormonal INSL3 dan reseptor RXLF2 diduga menjadi gen penyebab munculnya keadaan torsio testis. Keberadaan hormon dan reseptor ini menyebabkan atrofi testis yang berisiko tinggi menjadi torsio testis secara tiba-tiba. Penyebab lainnya yaitu ketakutan, latihan yang  berlebihan, batuk, dan celana yang terlalu ketat.

Menurut klasifikasinya, torsio testis dibagi menjadi intravaginal dan ekstravaginal. Baik torsio intravaginal maupun ekstravaginal akan mengakibatkan cedera testis yang disebabkan terputarnya testis dalam pedikulus korda spermatika. Berdasarkan studi menunjukkan sumbatan perdarahan testis dimulai 2 jam setelah awal terjadinya torsio testis, kerusakan ireversibel terjadi setelah 6 jam, dan sumbatan penuh timbul pada 24 jam.

  1. Intravaginal (Bell clapper)

Penyebab torsio tetis jenis intravaginal adalah kelainan anatomis berupa tunika vaginalis yang menutupi seluruh testis dan epididimis sehingga penempelan ke skrotum terganggu.

  • Ekstravaginal

Torsio testis ekstravaginal paling sering pada kasus torsio janin dan bayi baru lahir. Pada torsio jenis ini, puntiran korda spermatika terjadi di luar kantung tunika vaginalis pada skrotum. Fasia spermatika eksterna tidak menempel pada otot dartos, dan baru terbentuk perlekatan korda spermatika ke skrotum pada 7-10 hari kehidupan.

Tindakan yang dapat dilakukan untuk penatalaksanaan kasus torsio testis adalah:

  1. Detorsi Manual

Detorsi secara manual dilakukan dengan anestesi intravena atau anestesi korda spermatika. Detorsi dapat dilakukan dengan rotasi dari arah bawah menuju kranial dilanjutkan tengah ke luar, putaran sebesar 180o atau sebanyak 3 putaran. Keberhasilan detorsi ditandai dengan hilangnya keluhan nyeri. Sekalipun detorsi manual berhasil, tetap dibutuhkan tindakan operatif yaitu orkidopeksi (operasi penurunan testis ke skrotum) segera dan pemeriksaan biopsi ( tindakan pengambilan sebagian kecil jaringan kulit atau jaringan organ tubuh lain untuk dilakukan pemeriksaan di laboratorium).

  • Eksplorasi Surgikal

Tindakan operasi segera dibutuhkan dalam semua kasus akut skrotum jika diagnosis sudah ditegakkan, karena viabilitas testis sangat bergantung pada durasi torsio. Detorsi dalam 4-8 jam umumnya merupakan jangka waktu yang paling optimal untuk menyelamatkan testis. Operasi setelah jangka waktu tersebut kemungkinan besar adalah orkiektomi dengan komplikasi penurunan kesuburan dan fungsi hormonal. Pasien yang datang 24 jam setelah keluhan pertama, tidak memerlukan operasi segera melainkan operasi elektif.

Pada testis yang diselamatkan, kerusakan testis tetap ditemukan disertai penurunan ukuran testis. Pemeriksaan antibodi antrisperma dan inhibin B dapat digunakan sebagai marker fungsi testis setelah operasi. Setelah eksplorasi atau detorsi, testis ditutup dengan kasa hangat selama 10-15 menit dan menilai tanda-tanda reperfusi testis.

Torsio testis merupakan kasus gawat darurat pada anak, remaja, dan laki-laki dewasa. Torsio testis diderita oleh 1:4000 pria yang berumur <25 tahun. Pada pasien torsio testis sering dijumpai gejala berupa nyeri hebat di daerah skrotum yang sifatnya mendadak dan diikuti dengan pembengkakan pada testis tetapi pada bayi baru lahir gejalanya tidak khas seperti gelisah, rewel, atau tidak mau menyusu. Torsio testis sering terjadi pada testis kiri dibandingkan dengan testis kanan. Tatalaksana seperti detorsi manual dan operasi dapat dlakukan setelah diagnosis torsio testis ditegakkan.

Referensi:

Al-Muqsith. Anatomi dan gambaran klinis torsio testis.  Jurnal Aceh Medika. Oktober 2017; 1(2): 74-8

Kusumajaya Christopher. Diagnosis dan tatalaksana torsio testis. CDK. 2018; 45(10): 736-9

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X
Selamat Datang di Chat Dokter Online
Selamat Datang di Chat Dokter Online