Kenali Penyakit: Tonsilitis Kronik

Tonsilitis sering juga disebut dengan radang amandel merupakan suatu peradangan yang terjadi di tonsil palatina (amandel). Tonsilitis kronik merupakan peradangan yang terjadi pada amandel atau tonsil yang menetap, suatu organ kecil yang terletak di belakang tenggorokan akibat infeksi yang terjadi secara berulang lebih dari dua minggu. Tonsilitis kronis adalah peradangan amandel yang terus menerus, yang dapat membentuk batu amandel. Infeksi dapat menyebar melalui udara, tangan, dan ciuman. Tonsilitis dapat terjadi pada semua umur, terutama pada anak-anak.  

Tonsilitis kronis disebabkan oleh episode tonsilitis akut berulang yang mengakibatkan kerusakan permanen pada amandel. Ketika daya tahan tubuh pasien menurun, mikroorganisme patogen dapat menetap sementara atau lama dan menyebabkan gejala akut muncul kembali. Beberapa faktor predisposisi timbulnya tonsilitis kronik yaitu

  • Rangsangan menahun (kronik) rokok dan beberapa jenis makanan
  • kebersihan mulut yang buruk
  • pengaruh cuaca
  • kelelahan fisik,
  • pengobatan tonsilitis akut yang tidak tepat.

Tonsilitis timbul dari penularan yang terjadi melalui droplet dengan kuman memasuki lapisan epitel. Infeksi berulang pada amandel mencegah amandel untuk membunuh semua kuman sekaligus, sehingga kuman/bakteri dapat menetap di amandel. Dalam situasi ini, fungsi perlindungan tubuh dari amandel berubah menjadi fokus infeksi (infeksi lokal) dan suatu hari kuman dan racun dapat menyebar ke seluruh tubuh misalnya ketika kondisi umum tubuh menurun. Ketika epitel terkikis, jaringan limfoid superkistal bereaksi untuk memblokir peradangan dan leukosit polimorfonuklear menyusup. Karena proses inflamasi yang berulang, selain epitel mukosa, jaringan limfoid juga digantikan oleh jaringan parut, yang akan menyusut, sehingga kripti melebar. Secara klinis, kripti tampaknya dipenuhi dengan detritus. Proses ini berlanjut sampai menembus kapsul amandel dan akhirnya bergabung dengan jaringan yang mengelilingi fossa tonsil. Anak-anak dengan pembengkakan kelenjar getah bening submandibular.

Tanda-tanda yang signifikan dari tonsilitis kronis diantaranya sakit tenggorokan berulang atau persisten dan obstruksi saluran pencernaan dan pernapasan. Gejala konstitusional, seperti demam, dapat ditemukan. Pada pemeriksaan fisik, terlihat tonsil membesar dengan permukaan yang tidak rata, rongga besar, dan beberapa rongga berisi debris. Sensasi seperti ada sesuatu yang tersangkut di tenggorokan, sensasi terbakar di tenggorokan dan bau mulut. Radang amandel/tonsilitis kronis bersifat rekuren dan dapat berlangsung lama. Pembesaran amandel bisa begitu besar sehingga amandel kiri dan kanan bertemu sehingga bisa menyumbat jalan napas (Manurung, 2016). Tonsilitis pada anak seringkali dapat menimbulkan gejala seperti mendengkur atau ngorok saat tidur. Hal ini dapat disebabkan karena ukuran amandel mengganggu pernapasan dan bahkan dapat menyebabkan sesak napas jika amandel yang membesar telah menyumbat jalur pernapasan (Fakh, et al., 2016)

Pengobatan pasti untuk tonsilitis kronis adalah pembedahan pengangkatan tonsil. Tindakan ini dilakukan pada kasuskasus di mana penatalaksanaan medis atau yang lebih konservatif gagal untuk meringankan gejala-gejala. Penatalaksanaan medis termasuk pemberian penisilin yang lama, irigasi tenggorokan sehari-hari, dan usaha untuk mernbersihkan kripta tonsilaris dengan alat irigasi gigi atau oral. Ukuran jaringan tonsil tidak mempunyai hubungan dengan infeksi krdnis atau berulang (Adams, et al., 2012).

Pengobatan definitif untuk tonsilitis kronis adalah dengan operasi pengangkatan amandel. Prosedur ini dilakukan dalam kasus di mana perawatan medis atau konservatif tidak menghilangkan gejala. Penatalaksanaan medis meliputi pemberian penisilin dalam waktu lama, irigasi faring setiap hari, dan upaya membersihkan rongga amandel dengan pencuci mulut atau gigi. Ukuran jaringan tonsilitis tidak berhubungan dengan infeksi kronis atau berulang

DAFTAR PUSTAKA

  1. Dorland WA, Newman. 2010. Kamus Kedokteran Dorland edisi 31. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
  2. Rusmarjono, Kartoesoediro S. Tonsilitis kronik. In: Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher ed Keenam. FKUI Jakarta: 2007.
  3. Colman, B. H. 2001. Adenoid and Tonsil Desease of Nose, Throat and Ear and Head. Oxford: oxford press university
  4. Richard SS. Pharinx. In: Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran. Edisi 6. Jakarta: ECG, 2006.
  5. Manurung, R., 2016. Gambaran Faktor – Faktor yang Berhubungan dengan Pencegahan Tonsilitis pada Remaja Putri di Akper Imelda Medan Tahun 2015. Jurnal Ilmiah Keperawatan IMELDA, 1(2), p. 2.
  6. Fakh, I. M., Novialdi & Elmatris, 2016. Karakteristik Pasien Tonsilitis Kronis pada Anak di Bagian THT-KL RSUP Dr. M. Djamil Padang Tahun 2013. Jurnal Kesehatan Andalas, 5(2), pp. 436-437.
  7. Adams, G. L., Boies, L. R. & Higler, P. A., 2012. BOIES Buku Ajar Penyakit THT. 6 ed. Philadelphia: BOEIS FUNDMENTALS OF OTOLARYNGOLOGY
  8. Nelson WE, Behrman RE, Kliegman R, Arvin AM. Tonsil dan Adenoid. In: Ilmu Kesehatan Anak Edisi 15 Volum 2. Jakarta: ECG,2000.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X
Selamat Datang di Chat Dokter Online
Selamat Datang di Chat Dokter Online