Kenali Penyakit: Sklerosis Multiple

Pengertian Sklerosis Multiple

Sklerosis Multiple/Multiple sclerosis (MS) merupakan penyakit autoimun pada sistem saraf pusat (SSP) yang ditandai dengan peradangan kronis, demielinasi, gliosis, dan kehilangan saraf. Penyakit ini menyerang jaringan myelin otak dan medula spinalis sehingga menyebabkan kerusakan myelin dan akson. Kerusakan tersebut selanjutnya dapat menyebabkan terjadinya gangguan transmisi konduksi sistem saraf.

Penyakit ini umumnya terjadi pada kelompok usia dewasa muda (30-40 tahun), dengan prevalensi umum di seluruh dunia yaitu 30 kasus per 100.000 populasi. Sekitar 2-5% penyakit ini terjadi pada usia kurang dari 18 tahun. Pada populasi anak, insidensi tahunan penyakit Sklerosis Multiple bervariasi antara 0,07 hingga 2,9 tiap 100.000 anak.

Wanita dua kali lebih banyak terkena penyakit ini dibandingkan pria, dan orang-orang keturunan Eropa Utara memiliki risiko tertinggi untuk penyakit Sklerosis Multiple.

Penyebab Sklerosis Multiple

Penyebab terjadinya Sklerosis Multiple secara pasti masih belum diketahui, namun beberapa faktor memiliki peranan penting terhadap terjadinya penyakit ini. Faktor tersebut antara lain melibatkan kombinasi kerentanan genetik dan pemicu nongenetik, seperti virus, metabolisme, atau faktor lingkungan, yang bersama-sama menghasilkan gangguan autoimun yang menyebabkan serangan kekebalan berulang pada SSP (Sistem Saraf Pusat).

Faktor autoimun, genetik dan lingkungan adalah beberapa faktor penting yang dapat menimbulkan kondisi Sklerosis Multiple. Walaupun terdapat lebih dari 200 gen yang dapat berperanan terhadap terjadinya Sklerosis Multiple, faktor genetik yang paling signifikan berkontribusi terhadap Sklerosis Multiple yaitu perubahan pada antigen leukosit manusia (human leukocyte antigen, HLA) DRB 1.

Faktor lingkungan yang berperanan penting terhadap timbulnya penyakit ini adalah infeksi virus Epstein-Barr, rendahnya kadar vitamin D dan kebiasaan merokok.

Terjadinya Sklerosis Multiple dimulai dengan adanya kontak dengan faktor pemicu (agen infeksi) yang menyebabkan sistem imun mengaktivasi kondisi autoreaktifitas melalui aktivasi sel T CD4 (+) di sirkulasi sistemik. Sel T CD4 (+) dengan bantuan dari IL-23 akan berdiferensiasi menjadi sel T helper (Th17) yang selanjutnya memproduksi IL-17. Sel T yang telah teraktivasi tersebut selanjutnya melewati/menembus sawar darah otak dan bereaksi dengan autoantigen seperti myelin dan oligodendrosit melalui mekanisme molekular mimikri. Sel Th17 menyebabkan terjadinya inflamasi pada sistem saraf pusat yang selanjutnya diikuti dengan migrasi/perpindahan sejumlah sel T lainnya menembus sawar darah otak dan juga mengaktifkan makrofag.

Produksi sejumlah sitokin proinflamasi pada peradangan ini menyebabkan kerusakan myelin dan oligodendrosit yang selanjutnya dapat membentuk plaque sklerotik (Sklerosis Multiple).

Gejala Sklerosis Multiple

Gejala pada sklerosis multiple ini bervariasi, seperti gangguan penglihatan, mati rasa dan kesemutan, kelemahan fokal, inkontinensia kandung kemih dan usus, dan disfungsi kognitif. Gejala sklerosis multiple bervariasi tergantung pada lokasi lesi.

Manifestasi klinis khas pada Sklerosis Multiple:

  • Gejala penglihatan: sepeti kehilangan penglihatan (baik monokular atau homonim), penglihatan ganda, gejala yang berkaitan dengan neuritis optik.
  • Gejala vestibular: vertigo, ketidakseimbangan gaya berjalan.
  • Disfungsi bulbar: disartria, disfagia
  • Motorik: kelemahan, tremor, spastisitas, kelelahan
  • Sensorik: kehilangan sensasi, parestesia, disestesia
  • Gejala saluran kemih dan usus: inkontinensia, retensi, urgensi, sembelit, diare, refluks
  • Gejala kognitif: gangguan memori, gangguan fungsi eksekutif, kesulitan berkonsentrasi
  • Gejala kejiwaan: depresi, kecemasan

Pengobatan Sklerosis Multiple

Meskipun tidak ada obat untuk Sklerosis Multiple, FDA (Food and Drug Administration) / Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat menyetujui delapan agen terapeutik yang dapat mengurangi aktivitas dan perkembangan penyakit pada pasien Sklerosis Multiple yang kambuh. Delapan agen yang disetujui FDA untuk treatment/perawatan Sklerosis Multiple yaitu :

  1. Beta Interferon (Avonex, Betaseron, Rebif, Extavia)
  2. Glatiramer Asetat (Kopakson)
  3. Mitoxantrone (Novantrone)
  4. Natalizumab (Tysabri)
  5. Fingolimod (Gilenya)

Symptomatic Treatment (Perawatan Simtomatik) pada Sklerosis Multiple ini yaitu:

Dalfampridine (Ampyra)

Sklerosis Multiple adalah penyakit progresif yang belum ada obatnya sejauh ini. Meskipun tersedia perawatan untuk mengelola penyakit ini, hal tersebut hanya efektif sebagian.

Referensi :

Goldenberg, Marvin M. 2012. Multiple Sclerosis Review.

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3351877/

Rizminardo, Fredyton., dkk. 2018. Multipel Sklerosis pada Anak. Jurnal Kesehatan Andalas.

Tafti, Dawood., Moavia Ehsan dan Kathryn L. Xixis. 2021. Multiple Sclerosis. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK499849/

X
Selamat Datang di Chat Dokter Online
Selamat Datang di Chat Dokter Online