Kenali Penyakit: Sindrom Stevens-Johnson

Apa itu Sindrom Stevens-Johnson?

Sindrom Stevens-Johnson atau SSJ adalah penyakit pada kulit yang disebabkan oleh reaksi berlebihan sistem kekebalan tubuh terhadap suatu obat atau infeksi tertentu. Selain kulit, bagian tubuh yang sering ikut terdampak oleh penyakit ini juga adalah mulut dan mata. Sebenarnya, penyakit ini terbilang cukup jarang ditemukan di Indonesia, dengan jumlah sekitar 12 kasus per tahun. Namun, bila tidak diatasi, dapat berakibat fatal bagi penderitanya. Penyebab utama dari Sindrom Stevens-Johnson ini adalah obat-obatan dengan presentase lebih dari 90% kasus yang terjadi. Obat yang paling sering menyebabkan SSJ adalah obat-obat antibiotik golongan sulfonamid dan β-lactams, obat-obat anti peradangan nonsteroid tipe oxicam, serta obat-obat anti kejang. Bahkan pada beberapa kasus, SSJ juga diketahui dapat disebabkan oleh obat pereda nyeri yang paling sering digunakan di masyarakat yaitu paracetamol. Selain obat, infeksi virus herpes, vaksinasi, dan makanan juga dapat menyebabkan SSJ tetapi dengan kemungkinan yang jauh lebih kecil. Sindrom ini dapat terjadi pada siapa saja tetapi lebih sering terjadi anak-anak dan orang lanjut usia. Faktor genetik juga dapat meningkatkan resiko penyakit ini.

Gejala-Gejala dari Sindrom Stevens-Johnson

Gejala kulit pada Sindrom Stevens-Johnson awalnya tidak dapat dilihat dan gejala-gejalanya sangat beragam tergantung dari individu masing-masing. Penyakit ini dimulai dengan gejala yang tidak spesifik seperti demam, batuk, lemas, sakit mata, dan susah menelan. Setelah beberapa hari, biasanya mulai muncul bercak  yang mengubah warna kulit menjadi hitam (hiperpigmentasi) atau merah (eritematosa) pada dada, muka,dan terkadang pada telapak tangan, dan telapak kaki yang menyebar ke daerah sekitarnya seperti bibir, mata, leher, lengan, dan genitalia. Seiring waktu, pada daerah bercak-bercak ini dapat ditemukan lecet, pengelupasan kulit (desquamasi), koreng (krusta), lepuh (bula), goresan, atau kulit kering. Selain itu,   pada lapisan kulit dalam (mukosa) di mulut dan genitalia beberapa penderita dapat ditemukan lesi, koreng (krusta), dan pembengkakan (edema). Sedangkan untuk mukosa mata dapat ditemukan mata merah (konjungtivitis).

Pada fase selajuntnya dari Sindrom Stevens-Johnson, area kulit yang terdampak akan semakin membesar. Persentase area kulit yang terkelupas karena erosi ataupun lepuh dan yang bisa dikupas dapat digunakan sebagai acuan untuk menentukkan tingkat keparahan dari penyakit. Apabila persentase area kulit yang terkelupas dan yang bisa dikupas kurang dari 10%  maka keadaan itu disebut sebagai Sindrom Stevens-Johnson saja, jika area kulit yang terkelupas dan yang bisa dikupas sekitar 10%-30% disebut SSJ-NET overlap, dan jika melebihi 30% disebut nekrolisis epidermal toksik (NET). Nekrolisis epidermal toksik ini sangat mematikan dengan tingkat kematian sekitar 25-35% dan angka tersebut lebih tinggi pada orang yang lanjut usia. Selain itu, nekrolisis epidermal toksik memiliki kemungkinan lebih dari 50% untuk menyebabkan komplikasi jangka panjang pada penderitanya.

Pada fase akhir nekrolisis epidermal toksik sering ditemukan perubahan warna pada kuku dan komplikasi mata seperti mata kering yang parah,  perlekatan abnormal antara permukaan bola mata (symblepharon), serta pada kasus ekstrim dapat menyebabkan kebutaan.

Pengobatan dan Pencegahan Sindrom Stevens-Johnson

Langkah-langkah pengobatan Sindrom Stevens-Johnson dilakukan dengan cara:

  1. Identifikasi penyebab dari Sindrom Stevens-Johnson. Pikirkan apa saja hal yang dapat menjadi penyebabnya. Jika ternyata ada riwayat pengunaan obat baru-baru ini, identifikasi obat itu dan lihat apakah obat tersebut bisa jadi salah satu obat yang dapat menginduksi SSJ. Apabila obat tersebut merupakan salah satu obat yang dapat menginduksi SSJ, hentikan penggunaannya.
  2. Segera kunjungi dokter. SSJ ataupun NET adalah penyakit yang dapat mengancam nyawa dan dapat menyebabkan komplikasi yang merusak tubuh secara permanen. Berdasarkan data, tingkat kematian dan keparahan penyakit menurun secara drastis pada penderita yang ditransfer langsung ke rumah sakit sebelum 7 hari setelah penyakit timbul. Hal tersebut dikarenakan di rumah sakit, kondisi tubuh penderita dapat dimonitor dan luka dapat ditangani dengan benar untuk menghindari infeksi sekunder. Selain itu juga, sebagaimana yang kita tahu, SSJ dapat menyerang mulut,  mata, dan genital sehingga feeding tube atau kateter dapat digunakan jika diperlukan.
  3. Pemberian terapi obat. Obat yang digunakan sebagian besar untuk mengurangi keluhan dari penderita SSJ. Obat tersebut meliputi obat pereda nyeri, obat anti radang jenis kortikostreoid, dan obat antibiotik untuk penderita SSJ karena infeksi bakteri. Penggunaan obat ini harus dengan pengawasan dokter yang bertanggung jawab.

Langkah pencegahan Sindrom Stevens-Johnson adalah dengan mengetahui sejarah keluarga yang pernah mengalami Sindrom Stevens-Johnson karena faktor genetik berpengaruh terhadap pemicuan penyakit ini.

DAFTAR PUSTAKA

Fitriana, Annisa, dkk. 2018. “Gambaran Klinis Steven Johnson Syndrome dan Toxic Epidermal Necrolysis pada Pasien Anak”. Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin – Periodical of Dermatology and Venereology: Vol. 30, No. 2.

Harr, Thomas, dan Lars E French. 2010. “Toxic epidermal necrolysis and Stevens-Johnson syndrome”. Orphanet journal of rare diseases: Vol. 5, No.39.

Laun J, dkk. 2016. “Stevens-Johnson Syndrome”. Open Access Journal of Plastic Surgery: Eplasty Vol. 16 ic47.

Yulisna, Sundari A. 2018. “Paracetamol Menyebabkan Steven Johnson Syndrome pada Wanita Berusia 24 Tahun”. Jurnal Kedokteran Unila: Vol. 2, No. 1.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X
Selamat Datang di Chat Dokter Online
Selamat Datang di Chat Dokter Online