Kenali Penyakit: Sindrom Polikistik Ovarium (PCOS)

Definisi
Sindrom polikistik ovarium merupakan kelainan endokrin yang ditandai dengan peningkatan kadar androgen (hormon laki-laki), ketidakteraturan menstruasi, atau adanya kista kecil pada satu atau kedua ovarium. Menurut National Institutes of Health Office of Disease Prevention, sebanyak 5-10 % wanita berusia 18-44 tahun mengalami kondisi PCOS, di mana ini menjadi kelainan endokrin paling umum di Amerika Serikat. Berdasarkan data dari WHO pada tahun 2015, sebanyak 5,8% dari 8.612 wanita usia 28-33 tahun mengalami PCOS. Dengan 309 wanita penderita PCOS diantaranya mengalami infertilitas. Berdasarkan data ini, maka sebanyak 72% wanita penderita PCOS mengalami infertilitas. Pada kasus PCOS, infertilitas terjadi dikarenakan sel telur wanita yang gagal matang (anovulasi) tidak dapat dibuahi oleh sperma sehingga mengakibatkan terjadinya kegagalan pasangan untuk mencapai kehamilan setelah melakukan hubungan seksual selama kurang lebih 12 bulan tanpa pengaman (infertilitas).

Penyebab
PCOS dikaitkan dengan obesitas dan resistensi insulin. Insulin membantu mengatur fungsi ovarium, dan ovarium merespons insulin yang berlebihan dengan memproduksi androgen, yang dapat menyebabkan anovulasi. Produksi hormon androgen yang berlebih akibat stimulasi ovarium dapat mengembangkan kondisi PCOS, yang mana testosteron akan melepaskan hormon LH berlebih pada kelenjar pituitari anterior. Hal tersebut mengganggu perkembangan folikel dan proses ovulasi.
Selain itu, kenaikan insulin juga dapat meningkatkan sekresi dari hormon GnRH yang meningkatkan risiko pembentukan tumor pada kelenjar pituitari. Hal tersebut nantinya dapat berujung pada pembentukan testosteron secara berlebihan. Apabila ini terjadi maka pematangan folikel juga akan terganggu dan menurunnya ikatan sex-hormone binding globulin (SHBG).

Gejala
Meskipun tanda dan gejala bervariasi, tiga faktor paling umum yang terkait dengan PCOS ialah ketidakteraturan ovulasi, peningkatan kadar androgen, dan ovarium kistik. Sebagian besar wanita penderita PCOS memiliki masalah terhadap pembuahan (ovulasi) dan peningkatan kadar androgen. Selain itu, tumbuhnya rambut tebal pada wanita (hirsutisme), jerawat, dan rontoknya rambut (alopesia) berhubungan langsung dengan peningkatan kadar androgen.

Pengobatan
A. Tanpa obat-obatan
Modifikasi Gaya Hidup
Pada wanita dan remaja PCOS yang kelebihan berat badan dan obesitas, olahraga dan diet pembatasan kalori adalah intervensi lini pertama terbaik untuk menurunkan berat badan dan Gangguan Toleransi Glukosa (IGT). Penurunan berat badan dapat membantu menurunkan kadar androgen, luteinizing hormone (LH), dan insulin. Ini juga membantu mengatur ovulasi, sehingga meningkatkan potensi kehamilan.

B. Dengan obat-obatan

  1. Anovulasi
    Untuk menstimulasi ovulasi pada kasus PCOS dapat menggunakan Clomiphene citrate. Namun, efek samping terapi ini ialah distensi, rasa tidak nyaman pada gastrointestinal, varian hyperstimulation syndrome (OHSS), serta kehamilan kembar atau lebih.
  2. Obat Antidiabetes
    Selain pemberian clomiphene, pemberian antidiabetes dapat meningkatkan sensitivitas insulin perifer dengan mengurangi produksi glukosa di hati dan meningkatkan sensitivitas jaringan terhadap insulin. Untuk meningkatkan kemungkinan ovulasi spontan juga dapat menggunakan metaformin. Sebab obat jenis ini dapat menurunkan kadar androgen pada wanita.
  3. Kontrasepsi Oral
    Penggunaan pil KB dapat mengatur masalah siklus menstruasi pada penderita PCOS. Obat ini dapat mengurangi gejala seperti jerawat, tumbuhnya rambut tebal dan tingginya kadar androgen.

Daftar Pustaka
Lorena I, Rasquin L, Catherine A, Jane V and Mayrin. Polycystic Ovarian Disease.StatPearls
Publishing, 21 Juli 2021. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK459251/
Ellena Maggyvin, Melisa Intan Barliana. Inovasi Terapi Polycystic Ovary Syndrome (Pcos)
Menggunakan Targeted Drug Therapy Gen Cyp19 Rs2414096. Bandung :
Universitas Padjajaran, 2019
SF Witchel, Oberfield SE, Alexia S. Polycystic Ovary Syndrome.JES Publishing, 14 Juni 2021
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6676075/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X
Selamat Datang di Chat Dokter Online
Selamat Datang di Chat Dokter Online