Kenali Penyakit: Sindrom Metabolik: Si Komplet yang Menarik untuk Dikulik

“Sudah medical checkup. Ngga ada diabetes, hipertensi, tapi lemaknya masih tinggi kata dokter,” ujar seseorang melalui sambungan telepon. Istilah-istilah kesehatan keren tersebut pastinya sudah tidak asing lagi di telinga kita. Akan tetapi, sudahkah kamu tahu jika penyakit-penyakit tersebut dialami secara bersamaan oleh seseorang, maka orang tersebut memiliki risiko yang lebih tinggi menderita masalah pada jantung hingga menyebabkan kematian! Kondisi ini dikenal dengan istilah sindrom metabolik.

Jadi, sindrom metabolik adalah kumpulan kelainan metabolik tubuh seperti hipertensi (tekanan darah tinggi), hiperglikemia (kadar gula darah tinggi), dislipidemia (kolesterol darah meningkat), dan obesitas (kelebihan berat badan). Waduh! Komplet sekali ya, udah kaya roti aja. Eitsss, walaupun sama-sama komplet, merasakan sindrom metabolic ga akan seenak merasakan seporsi roti komplet, lho! Seseorang yang mengalami sindrom ini umumnya tidak bergejala, karena penyakit ini cenderung menimbulkan tanda-tanda penyakit yang umum kita alami. Sebagai contoh, sebagian orang bisa merasakan gejala dari hipertensi, seperti pusing, sakit kepala, mudah lelah, dan mimisan. Sebagian orang juga bisa merasakan gejala dari kencing manis yang istilah kerennya diabetes melitus tipe 2, seperti buang air kecil lebih sering (terutama pada malam hari), merasa haus, dan pandangan kabur.

Untuk lebih paham mengenai sindrom metabolik, kita juga harus mengetahui siapa saja yang berisiko mengidap kelainan ini. Pada dasarnya, sindrom metabolik dapat menyerang siapa saja, baik seseorang yang masih muda maupun berusia lanjut, pria maupun wanita, kapanpun dan di manapun. Akan tetapi, kasus sindrom metabolik lebih sering ditemukan pada seseorang yang berusia di atas 60 tahun yang dikarenakan fungsi tubuh secara alami mulai mengalami penurunan, sehingga kurang mampu mengompensasi kelainan yang timbul akibat suatu penyakit.

Selain faktor umum yang disebutkan di atas, ternyata seseorang dengan kondisi-kondisi berikut juga berisiko terserang sindrom metabolik. Beberapa kondisi tersebut di antaranya:

  1. Besarnya ukuran lingkar pinggang

Ukuran lingkar pinggang berlebih menandakan kamu menyangga beban yang lebih ekstra dari keadaan normal. Ukuran lingkar pinggang berlebih ini sering disebut sebagai abdominal obesity.

  • Tingginya kadar trigliserida

Trigliserida merupakan salah satu jenis lemak yang bisa ditemukan di dalam darah, Kadar trigliserida yang sama atau melebihi 150mg/dL berpotensi menyebabkan seseorang mengalami sindrom metabolik.

  • Tingginya kadar gula darah puasa

Gula darah puasa secara normal berada di angka 100 mg/dL atau kurang. Tingginya kadar gula darah puasa menandakan kamu mengalami diabetes melitus, atau yang sering kita kenal sebagai kencing manis.

  • Keluarga dengan riwayat penyakit teretntu     

Tidak bisa dielakkan bahwa seseorang yang menderita sindrom metabolic memiliki keluarga dengan riwayat penyakit tersebut. Misalnya, seseorang dengan orang tua yang pernah mengalami hipertensi, umumnya berisiko mengalami hipertensi. Begitupun dengan seseorang yang memiliki keluarga dengan riwayat penyakit diabetes akan berpotensi terserang penyakit diabetes. Hal ini bisa terjadi karena terdapat gen-gen tertentu yang diwariskan dari orang tua kepada anak-anaknya.

            Membaca mengenai bahaya yang bisa ditimbulkan akibat sindrom metabolic membuat bulu kuduk jadi berdiri. Meskipun demikian, kita tidak perlu terlalu cemas karena ada hal yang bisa kita upayakan untuk mencegah terjadinya sindrom metabolik. Hal tersebut adalah gaya hidup. Kira-kira apa saja ya gaya hidup yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya sindrom metabolik?

  1.  Konsumsi makanan yang bergizi seimbang
  2. Jaga berat badan tetap dalam standar ideal
  3. Kelola stres
  4. Lakukan aktivitas fisik yang cukup
  5. Hindari konsumsi rokok dan alkohol

Seperti pepatah yang mengatakan “Lebih baik mencegah daripada mengobati, kalau bisa deteksi dini kenapa harus nanti”.  Kalau begitu, tunggu apa lagi. Ayo terapkan pola hidup sehat guna meminimalisasi risiko terjadinya sindrom metabolik!

Referensi

Christijani, Reviana. 2019. Penentuan Diagnosis Sindrom Metabolik Berdasarkan Pneilaian Skor Sindrom Metabolik dan NCEP ATP-III pada Remaja (Penelitian di Beberapa SMA di Kota Bogor). Badan Penelitian dan Pengembangan Upaya Kesehatan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI.

U.S. Department of Health & Human Service. Metabolic Syndrome. United States: National Heart, Lung, and Blood Istitute.

Willy, Tjin. 2019. Sindrom Metabolik. Jakarta: Alodokter.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X
Selamat Datang di Chat Dokter Online
Selamat Datang di Chat Dokter Online