Kenali Penyakit: Reaksi anafilaksis

Apa itu Reaksi Anafilaksis?

Reaksi anafilaksis merupakan reaksi sistem imun yang berlebihan sehingga menyebabkan kerusakan jaringan tubuh (hipersensitivitas) hingga melibatkan berbagai organ, ini bisa terjadi karena adanya paparan dari bahan-bahan atau senyawa penyebab alergi (alergen) yang dapat berupa makanan, gigitan serangga, dan obat-obatan. Kasus ini seringkali dijumpai di unit gawat darurat.

Menurut World Allergy Organization (WAO) 2013, wanita hamil, remaja, bayi, dan lansia lebih rentan terhadap anafilaksis. Selain itu penyakit seperti, asma berat dapat meningkatkan risiko anafilaksis menjadi fatal. Beberapa sumber menyebutkan bahwa, prevalensi reaksi anafilaksis terhadap gigitan serangga sebesar 1-3%, dan penggunaan obat-obatan seperti penisilin sebesar 2%.

Bagaimana Reaksi Anafilaksis dapat terjadi?

Reaksi anafilaktik terjadi tepat setelah terpapar alergen, dan berlangsung sangat cepat. Proses  ini dibagi menjadi 3 fase yakni:

  • Fase sensitisasi

Fase sensitisasi adalah fase yang dimulai ketika alergen masuk kedalam tubuh sampai terbentuk antibodi Immunoglobulin E (IgE).

  • Fase aktivasi

Fase aktivasi adalah fase dimana reseptor(penerima sinyal) IgE pada permukaan sel mast dan basofil berinteraksi dengan alergen (antigen spesifik) sehingga terbentuk bulatan kecil-kecil (granul) yang berisi mediator. Kemudian granul mengalami eksositosis (pengeluaran) dari sel mast dan basofil, disebut degranulasi.

Sel mast merupakan sistem imun yang membantu tubuh melawan infeksi, sedangkan basofil adalah salah satu jenis leukosit yang menimbulkan reaksi radang guna melawan infeksi.

  • Fase efektor

Degranulasi sel mast dan basofil seperti yang disebutkan diatas, menyebabkan pelepasan mediator inflamasi (peradangan) seperti histamin, kimase, dan sitokin. Mediator-mediator ini bisa meningkatkan kemampuan degranulasi lebih lanjut sehingga memunculkan dampak klinis pada organ tubuh. Inilah yang disebut fase efektor.

Tanda dan Gejala Reaksi Anafilaktik

Tanda dan gejala pada reaksi anafilaktik:

  • Pada kulit dapat berupa kemerahan, gatal, mata berair, juga bengkak pada bibir dan lidah
  • Pada sistem pernafasan dapat berupa gatal hidung, bersin, pilek, suara serak, batuk kering, susah bernafas, dan laju pernafasan meningkat.
  • Pada sistem perncernaan dapat berupa nyeri perut, mual, muntah, diare, dan sulit menelan
  • Pada sistem sirkulasi (kardiovaskuler) dapat berupa nyeri dada, denyut nadi diatas normal, jantung berdebar-debar, merasa ingin jatuh (vertigo), dan henti jantung.
  • Pada sistem saraf dapat berupa perubahan mood secara mendadak seperti iritabilitas, sakit kepala, kebingungan, dan perubahan status mental.

Pengobatan

Pengobatan anafilaksis terdirii dari manajemen jangka pendek dan jangka panjang. Tujuan paling awal dari penanganan ini adalah mempertahankan jalur pernafasan (airway breathing) yang memadai (adekuat) dan mendukung sirkulasi darah. Bila pasien mengalami reaksi yang parah, maka harus diberikan oksigen. Epinefrin diberikan sebagai terapi utama pada kasus anafilaksis (bila pasien memenuhi kriteria) dengan maksud untuk mengontrol gejala dan mempertahankan tekanan darah.

Pencegahan

Menghindari paparan atau konsumsi alergen adalah yang paling utama. Namun, bila ternyata alergennya berupa gigitan atau sengatan serangga yang secara konsisten tidak dapat dihindari, imunoterapi racun bisa menjadi cara yang efektif untuk mencegah reaksi yang mengancam jiwa. Selain itu, jika pasien sensitif terhadap radiokontras, dapat diberikan perawatan efektif berupa kortikosteroid, antihistamin, dan efedrin sulfat. Untuk pasien anafilaksis dengan  penyebabnya belum diketahui (idiopatik) yang mengancam jiwa dapat diberikan terapi kortikosteroid secara oral setiap paginya.

Sumber:

  1. Sreevastava DK, Tarneja VK. Anaphylactic Reaction: An Overview. Med J Armed Forces India. 2003;59(1):53-56. doi:10.1016/S0377-1237(03)80109-0
  2. Sampson H, Munoz FA, Campbell R. Second Sympsosium on the Definition and Management of Anaphylaxis-Second National Institute of Allergy and Infectious Disease/Food Allergy and Anaphylaxis Network Symposium. Annals of Emergency Medicine. 2006; 47(4): hal.373-80.
  3. Kemp S, Lockey R. Anaphylaxis: A Review of Causes and Mechanisms. Journal of Allergy Clinical Immunology. 2002; 110(3): hal. 341-8.
  4. McLean TA. Adrenaline in the Treatment of Anaphylaxis: What is the evidence? British Medical Journal. 2003; 327: hal.1332-5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X
Selamat Datang di Chat Dokter Online
Selamat Datang di Chat Dokter Online