Kenali Penyakit : Perdarahan Subkonjungtiva

Perdarahan subkonjungtiva atau Subconjunctival Hemorrhage (SCH) merupakan perdarahan yang terjadi karena pecahnya pembuluh darah di bawah lapisan konjungtiva pada mata, yaitu pembuluh darah konjungtivalis atau episklera. Perdarahan terjadi diantara konjungtiva dan episklera, lebih tepatnya pada substansia propria. Kondisi ini menyebabkan mata tampak berwarna merah, tanpa diikuti dengan rasa nyeri. Perdarahan subkonjungtiva bersifat akut (baru terjadi), umumnya unilateral (pada salah satu mata), dapat terjadi pada semua kelompok umur, dan tidak menyebabkan terjadinya penurunan ketajaman penglihatan.

Penyebab Perdarahan Subkonjungtiva:

Penyebab dari SCH dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu traumatis (trauma/luka) dan spontan.

1.      SCH Traumatis

         Penyebab SCH traumatis adalah penggunaan lensa kontak dan pada orang yang menjalani operasi mata. Penggunaan lensa kontak memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk mengalami SCH. Pemakaian lensa kotak dapat menyebabkan conjunctivochalasis, pinguecula, dan superficial punctate keratitis. Penyakit-penyakit konjungtiva tersebut dapat mengakibatkan peningkatan peradangan, melalui gesekan antara lensa dan konjungtiva, kekeringan pada mata, dan hambatan aliran air mata. Lalu, pada orang yang menjalani operasi mata, terutama pada pasien dengan antikoagulan, meningkatkan risiko SCH. Selain itu, trauma lokal ringan seperti menggosok mata atau ada benda asing, dan juga trauma lokal berat dapat menyebabkan SCH.

2.      SCH Spontan

         Faktor resiko dari SCH spontan adalah hipertensi dan gangguan pembuluh darah lainnya seperti diabetes dan hiperlipidemia. Penyakit ini dapat menyebabkan pembuluh darah menjadi rapuh dan spontan pecah. Terlepas dari tekanan darah dikendalikan dengan pemakaian obat-obatan, hipertensi terbukti merupakan faktor resiko utama untuk SCH. Penyebab spontan lainnya yaitu peningkatan tekanan vena seperti, muntah, batuk, olahraga, manuver Valsava. Konjungtivitis hemoragik akut paling sering disebabkan oleh enterovirus 70.

Faktor Resiko

Berikut beberapa faktor yang dapat meningkatkan resiko terjadinya SCH:

1.      Hipertensi dan aterosklerosis

2.      Diabetes

3.      Penggunaan obat-obatan, terutama obat pengencer darah

4.      Konjungtivitis

Gejala dan Tanda

  1. Terdapat darah pada sklera dan mata tampak berwarna merah terang apabila darah tipis, atau merah tua apabila darah tebal. Biasanya tidak ada gejala lain selain itu.
  2. Dalam 24 jam pertama perdarahan akan tampak meluas, lalu lama-kelamaan akan berkurang karena tereabsorbsi (terserap). Seiring bertambahnya usia, jaringan ikat dan elastis pembuluh darah menjadi lebih rapuh, sehingga penyebaran perdarahannya akan lebih mudah.

Pengobatan

Umumnya, tidak ada pengobatan yang ditujukan untuk SCH kecuali jika berhubungan dengan kondisi serius tertentu. Darah pada perdarahan subkonjungtiva akan diabsorbsi (diserap) selama 1-2 minggu, tanpa adanya pengobatan. Pemulihan dapat memakan waktu hingga 3 minggu jika pasien menggunakan antikoagulan. Untuk mengurangi pembengkakan jaringan dan mengurangi ketidaknyamanan, dapat digunakan kompres es dan obat tetes air mata buatan. Konsultasi ke dokter spesialis oftalmologi diperlukan apabila SCH terjadi melalui trauma dan trauma di dalam bola mata (intraokular) atau retina.

Komplikasi

Biasanya tidak terdapat komplikasi pada perdarahan subkonjungtiva karena sebagian besar dapat sembuh sendiri selama kurang lebih 2 minggu. Perdarahan subkonjungtiva ini mungkin juga merupakan tanda dari gangguan berbahaya lain seperti koagulopati, eksaserbasi asma berat, trauma non-kecelakaan, atau trauma orbital parah.

Konseling dan Edukasi

Memberitahu kepada keluarga bahwa jangan khawatir karena perdarahan akan meluas dalam 24 jam pertama, lalu akan berkurang karena akan diserap. Pada pasien dengan hipertensi diperlukan pengontrolan tekanan darah karena hipertensi memiliki hubungan yang cukup tinggi dengan terjadinya perdarahan subkonjungtiva.

Daftar Pustaka

Doshi R, Noohani T. 2021. Subconjunctival Hemorrhage. Publisher: StatPearls. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK551666/

Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia. 2014. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer. 2nd ed. Jakarta: Ikatan Dokter Indonesia. 173-175.

Tarlan, B., & Kiratli, H. 2013. Subconjunctival hemorrhage: risk factors and potential indicators. Clinical ophthalmology (Auckland, N.Z.)7, 1163–1170. https://doi.org/10.2147/OPTH.S35062

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X
Selamat Datang di Chat Dokter Online
Selamat Datang di Chat Dokter Online