Kenali Penyakit: Penyakit Cacing Tambang

Penyakit cacing tambang disebabkan oleh cacing spesies Ancylostoma duodenale  dan Necator americanus. Ancylostoma duodenale dan Necator americanus ditemukan di Eropa pada pekerja tambang yang memiliki fasilitas sanitasi yang buruk. Oleh karena itu kedua spesies cacing ini disebut ‘cacing tambang’

Habitat Cacing Tambang

Cacing tambang sering ditemukan di daerah beriklim tropis, salah satunya Indonesia. Cacing tambang akan makin banyak ditemukan di tempat dengan sanitasi buruk. Pada manusia, cacing tambang dapat hidup dalam usus.

Perbedaan Ancylostoma duodenale dan Necator americanus

Kedua spesies cacing tambang yang dapat menyerang manusia adalah Ancylostoma duodenale dan Necator Americanus. Kedua jenis cacing tambang ini, sulit untuk dilihat secara langsung dengan mata karena ukurannya hanya sekitar 1 cm. Namun, dua jenis cacing ini memiliki perbedaan bentuk tubuhnya. Ancylostoma duodenale mempunyai tubuh seperti huruf C sedangakn Necator americanus berbentuk seperti huruf S. Selain itu, apabila dilihat menggunakan mikroskop maka akan terlihat sepasang gigi kitin pada Necator americanus dan dua pasang gigi kitin pada Ancylostoma duodenale.

Penularan Cacing Tambang ke Manusia

Seseorang dapat terkena penyakit cacing tambang karena masuknya larva cacing tambang melalui kulit. Pekerja perkebunan menjadi yang sering mendapatkan infeksi cacing tambang karena langsung berhubungan dengan tanah.

Awalnya, cacing tambang yang telah berkembang biak pada tubuh manusia akan menghasilkan telur. Kemudian tekur cacing tambang akan dikeluarkan melalui feses. Apabila seseorang yang terinfeksi buang air besar di luar atau jika feses dari orang yang terinfeksi digunakan sebagai pupuk, maka telur akan berada di tanah dan berkembang biak menjadi larva non-infektik. Larva akan berkembang menjadi larva yang infektif dan mampu menembus kulit manusia. Larva akan terbawa melalui pembuluh darah, menuju jantung, paru-paru, kemudian naik ke faring. Ketika ada refleks batuk maka larva akan tertelan menuju usus halus dan berkembang di usus.

Penularan penyakit cacing tambang dapat terjadi karena berjalan di tanah yang terkontaminasi tanpa menggunakan alas kaki. Bukan hanya itu, salah satu spesies cacing tambang yaitu Ancylostoma duosenale bahkan mampu ditularkan apabila larvanya tertelan.

Gejala

Gejala awal yang dirasakan ketika larva cacing tambang menembus kulit yaitu gatal dan ruam. Saat larva tertelan dapat juga menimbulkan gejala berupa mual, muntah, iritasi faring, batuk, sakit leher, dan serak. Ketika larva berkembang dalam usus menjadi cacing dewasa maka cacing tambang juga akan menghisap darah. Setiap cacing Necator americanus mampu menghisap darah sebanyak 0,005 – 0,1cc perhari, sedangkan Ancylostoma duodenale mampu menghisap darah sebanyak 0,08-0,34 cc. Sehingga penderita penyakit cacing tambang ini juga seringkali mengidap anemia dengan gejala sakit perut, diare, kehilangan nafsu makan, penurunan berat badan, dan mudah lelah.

Diagnosis

Diagnosis dapat ditegakkan apabila sudah dilakukan pemeriksaan tinja segar. Fasilitas kesehatan akan memeriksa tinja dengan metode kuaitatif dan kuantitatif menggunakan mikroskop untuk melihat ketersediaan telur cacing tambang pada tinja. Sesorang dinyatakan menderita penyakit tambang apabila di dalam tinjanya mengandung telur cacing tambang.

Pengobatan

Penyakit cacing tambang umumnya akan diobati dengan mengikuti resep dokter, selama beberapa hari. Pemberian pirantel pamoat 10 mg/kg berat badan dapat membunuh cacing dewasa pada tubuh manusia. Namun pyrantel pamoat, tidak mampu membasmi telur dan larva daric acing tambang sehingga perlu untuk memeriksakan diri kira-kira 2-4 minggu setelah obat dikonsumsi pertama kali. Hal ini berguna untuk memastikan apakah pemberian dosis kedua diperlukan atau tidak. Selain itu, dokter juga akan memberikan suplemen zat besi apabila pasien juga menderita anemia karena kecacingan.

Pencegahan

Agar terhindar dari penyakit kecacingan, maka janganlah berjalan tanpa alas kaki di daerah cacing tambang hidup (perkebunan) karena mungkin ada kontaminasi tinja pada tanah. Hindari kontak langsung ke tanah dan jangan menelan tanah tersebut. Lalu hindari pula  buang air besar di luar ruangan atau menggunakan kotoran manusia sebagai pupuk, karena penyakit cacing tambang juga dapat disebabkan oleh seseorang yang telah terinfeksi sebelumnya.

Referensi

Centers for Disease Control and Prevention (2019). Hookworm (Intestinal). 

Buku Ajar Parasitologi Kedokteran, edisi ke 4, FKUI (2008)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X
Selamat Datang di Chat Dokter Online
Selamat Datang di Chat Dokter Online