Kenali Penyakit: Paronikia

Pendahuluan

Paronikia adalah infeksi pada kulit disekitar kuku jari atau kuku kaki. Jaringan sekitar kuku yang terinfeksi akan membengkak, melunak saat disentuh, meradang, dan terasa sakit. Penyakit kuku ini terjadi saat bakteri atau jamur memasuki kulit sekitar kuku yang rusak seperti robeknya kutikula, luka, atau retak. Selain itu, faktor pemicu infeksi akan lebih tinggi bila terdapat luka atau trauma, seperti menggigit kuku, sering mencuci piring, terpapar bahan kimia, dan perawatan kuku (manicure) yang agresif atau berlebihan menjadi salah satu faktor mengalami paronikia.

Paronikia dapat muncul secara tiba-tiba dan berlangsung dalam jangka pendek (akut) atau bertahap dan berlangsung dalam jangka panjang (kronis). Paronikia terjadi jika adanya kerusakan pada daerah kulit lipat kuku yang berbatasan dengan lempeng kuku sehingga kuman dapat masuk.

Penyebab Paronikia

Penyebab paling umum dari paronikia akut adalah trauma langsung atau tidak langsung pada potongan kuku, misalnya kuku pecah, menggigit kuku, menghisap kuku. Paronikia akut bisa juga berkembang sebagai komplikasi dari paronkhia kronis. Terkadang, paronikia akut terjadi sebagai manifestasi lainnya yang mempengaruhi jari, seperti pemfigus vulgaris.

Paronikia akut umumnya disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus atau Staphylococcus enterococcus yang masuk ke kulit kuku yang rusak, misalnya akibat kebiasaan mengigit kuku, sehingga menyebabkan infeksi pada lipatan kuku. Pada pasien dengan paronikia akut, hanya satu kuku biasanya yang terlibat. Kondisi ini ditandai dengan gejala kemerahan pada kulit yang disebabkan oleh pelebaran pembuluh darah di bawah kulit, bengkak, dan ketidaknyamanan atau nyeri lipatan di ujung dan di pangkal kuku, biasanya dua sampai lima hari setelah trauma. Pasien dengan paronikia awalnya hanya berupa infeksi kecil ditandai adanya nanah pada pinggir kuku. Infeksi yang tidak diobati dapat berkembang menjadi bisul pada area bawah kuku, dengan rasa sakit dan pembengkakan matriks kuku. Paronikia akut berulang dapat berkembang menjadi paronikia kronis. Pada paronikia kronis, kutikula (kulit kuku) berpisah dari lempeng kuku, memisahkan daerah antara lipatan kuku bagian ujung dan lempeng kuku yang rentan terhadap infeksi oleh patogen bakteri dan jamur.

Paronikia kronis dapat terjadi sebagai komplikasi dari paronikia akut pada pasien yang tidak mendapat pengobatan yang tepat, akibat iritasi paparan bahan kimia, seperti asam dan alkali. Pada umumnya berlangsung selama beberapa minggu dan sering terjadi secara berulang, biasanya disebabkan oleh lebih dari satu agen infeksi, seringkali jamur dan bakteri Candida albicans. Paronikia kronis sering terjadi pada orang orang-orang yang sering terpapar air lebih rentan terhadap masalah kuku ini. memungkinkan ragi dan bakteri tumbuh dan masuk ke bawah kulit untuk menimbulkan infeksi.

Paronikia kronis didasarkan pada pemeriksaan fisik lipatan kuku dan riwayat kontak terus-menerus dengan air, kontak dengan sabun, deterjen, atau bahan kimia lainnya; atau penggunaan obat sistemik (retinoid, ARV, anti-EGFR antibodi). Satu atau beberapa kuku biasanya terkena, biasanya ibu jari dan kedua atau ketiga jari tangan dominan. Lempeng kuku menjadi tebal dan berwarna. Paronikia kronis umumnya terdapat selama setidaknya enam minggu pada saat diagnosis. Kondisi ini biasanya memiliki penyebab yang berkepanjangan dengan berulang, eksaserbasi akut yang sembuh sendiri. Jika pelindung kuku (kutikula) rusak dan sering terpapar terhadap bahan kimia yang ada pembersih, tentu dapat menimbulkan infeksi kronis. Benjolan di sekitar kuku ini berkembang lebih lambat dan berisiko muncul kembali di lain waktu.

Gejala dan tanda

Gejala paronikia akut dan kronis sangat mirip. Sebagian besar dibedakan satu sama lain dengan kecepatan timbulnya dan durasi infeksi. Infeksi kronis datang secara perlahan dan berlangsung selama berminggu-minggu. Infeksi akut berkembang dengan cepat dan tidak berlangsung lama. Kedua infeksi dapat memiliki gejala berikut:

  • Kemerahan pada kulit di sekitar kuku
  • Bengkak yang berisi nanah (abses)
  • Perubahan bentuk, warna, atau tekstur kuku
  • Rasa tidak nyaman pada sentuhan
  • Nyeri ketika kuku atau kulit di sekitar kuku yang terkena infeksi disentuh
  • Bengkak pada kulit di sekitar kuku yang terinfeksi
  • Kemerahan dan rasa hangat pada kulit di sekitar kuku yang terinfeksi
  • Tidak adanya kutikula

Pengobatan

Pada kasus yang ringan, paronikia dapat ditangani secara mandiri.  Perawatan di rumah seringkali sangat berhasil dalam mengobati kasus-kasus ringan. Jika terdapat nanah di bawah kulit, dapat merendam area yang terinfeksi dalam air hangat beberapa kali dalam sehari dan mengeringkannya secara menyeluruh sesudahnya. Merendam bagian yang terinfeksi akan mendorong area tersebut untuk mengering dengan sendirinya.

Namun, jika muncul bisul bahkan demam, paronikia perlu ditangani oleh dokter. Untuk mengatasi penyebab paronikia, obat-obatan yang dapat diresepkan antibiotik minum (oral) atau antibiotik yang dioles pada kulit (topikal). Pada pasien dengan paronikia kronis sulit diobati, bedah pada lipatan kuku menjadi salah satu pengobatan yang efektif dengan cara pengangkatan lempeng kuku (total atau sebagian) atau tanpa pengangkatan kuku, dapat dilakukan yaitu bedah bagian luar pada kulit setengah lingkaran di lipatan kuku dan sejajar dengan kutikula meluas ke tepi lipatan kuku di kedua sisi.

Daftar Pustaka

Sari, Putri Oktavia., dan Cania Eka. 2018. Prinsip Pencegahan dan Pengobatan Paronikia Akut dan Kronis.    Lampung : FK Universitas Lampung

Shampson, B & Lewis, B. 2019. Paronychia Associated with Ledipasvir/Sofosbuvir for Hepatitis C Treatment. The Journal of Clinical and Aesthetic Dermatology, 12(1), pp. 35–37.

Lomax, Adam., Thornton, James., dkk. 2016. Toenail paronychia. pubmed.ncbi.nlm.nih.gov

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X
Selamat Datang di Chat Dokter Online
Selamat Datang di Chat Dokter Online