Kenali Penyakit: Limfadenopati

Limfadenopati diartikan sebagai kelainan ukuran dan konsistensi kelenjar getah bening yang dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, atau jamur, penyakit autoimun, dan keganasan. Pembesaran kelenjar getah bening merupakan temuan umum pada pemeriksaan fisik anak.  Kelenjar getah bening merupakan bagian dari sistem limfatik yang fungsinya sebagai pertahanan dari tubuh dan terdapat di seluruh tubuh berjumlah sekitar 600 buah, tetapi hanya beberapa saja yang dapat teraba. Limfadenopati biasanya ditemukan di leher, paling sering di daerah serviks posterior dan anterior, diikuti oleh daerah suboksipital, aksila (ketiak) dan kemudian selangkangan.

Gejala dan Tanda

Gejala dan tanda adanya limfadenopati antara lain seperti demam, ruam, nyeri umum, nyeri sendi dan pembengkakan, penurunan berat badan, gagal tumbuh, keringat malam, batuk kronis, kelelahan, mukosa mulut merah, pengelupasan jari, dan eksim (gatal dan kemerahan akibat reaksi alergi). Adanya sakit tenggorokan, hidung tersumbat, mata merah dengan keluarnya cairan, sariawan, karies gigi, dan pembengkakan gingiva harus diwaspadai pada pasien yang memiliki limfadenopati serviks. Gejala lainnya berupa gangguan pernapasan dan faring, seperti air liur, stridor (suara dengkur atau ngorok), dan kesulitan bernapas.

Penyebab

Pembengkakan kelenjar getah bening ini memiliki beberapa penyebab yang mendasar. Biasanya, infeksi umum seperti campak, pilek, radang amandel, infeksi telinga, dan radang tenggorokan dapat menyebabkan limfadenopati ini. Selain infeksi, terkadang kondisi autoimun seperti rheumatoid arthritis, HIV, dan lupus akan menyebabkan limfadenopati. Pembengkakan juga dapat terjadi karena efek samping dari mengonsumsi obat-obatan tertentu. Penyebab atau etiologi dari limfadenopati ini dapat disingkat menjadi “MIAMI” yaitu malignancy, infections, autoimmune disorders, miscellaneous and unusual condition, iatrogenic.

Diagnosis

Diagnosis diawali dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang meliputi palpasi pada permukaan yang membengkak, dan memeriksa ukuran, konsistensi, mobilitas dan skala nyeri. Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan darah lengkap pasien (CDC), pemeriksaan serologi dan radiologi berdasarkan gejala yang timbul seperti Tuberculin Skin Testing (TST), EBH, ultrasonografi, CT-Scan, dan Magnetic Resonance Imaging (MRI). Pemeriksaan yang menjadi Gold Standart adalah excisional node biopsy dengan cara pengambilan sampel dari kelenjar getah bening atau bahkan seluruh kelenjar getah bening untuk pemeriksaan secara mikroskopis.

Pengobatan

Pengobatan pada pasien limfadenopati bergantung pada penyebab limfadenopati pada pasien tersebut. Pengobatan awal biasanya berupa pemberian antibiotik selama 1-2 minggu yang disertai dengan observasi. Antibiotik yang disarankan untuk limfadenopati adalah cephalosporins, amoxicillin/clavulanate (Augmentin), orclindamycin. Obat kortikosteroid sebaiknya dihindari terlebih dahulu pada pasien limfadenopati.

Sumber:

Maini R, Nagalli S. Lymphadenopathy. [Updated 2021 Aug 11]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2021 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK558918/

Rasyid, S. R., Wulan, A. J., Prabowo, A. Y. 2018. Diagnosis dan Tata Laksana Limfadenopati. Junal Kedokteran Universitas Lampung Volume 7 Nomor 3.

Rubinstein E., Keynan Y. 2017. Lymphadenopathy. In Infectious Diseases (Fourth Edition).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X
Selamat Datang di Chat Dokter Online
Selamat Datang di Chat Dokter Online