Kenali Penyakit: Leptospirosis

Masyarakat akan secara otomatis meningkatkan kewaspadaannya terhadap penularan penyakit DBD dan malaria untuk menekan peningkatan angka kejadian kasus terutama saat musim penghujan tiba. Ternyata tidak hanya DBD dan malaria yang mengalami peningkatan angka kejadian kasus pada saat musim penghujan tiba, tetapi leptospirosis juga mengalami peningkatan angka kejadian kasus. Leptospirosis atau yang dikenal dengan Weil’s disease merupakan penyakit yang biasanya ditularkan dari hewan yang terinfeksi ke manusia dengan cara interaksi secara langsung maupun interaksi secara tidak langsung melalui air atau tanah yang sudah terkontaminasi oleh kencing hewan yang terinfeksi. Hewan-hewan yang bisa menjadi sumber penyebaran dari leptospirosis, yaitu hewan ternak seperti babi, sapi, dan kuda. Selain itu, hewan-hewan liar juga bisa menjadi sumber penyebaran dari leptospirosis seperti anjing, kucing, tikus, dan rakun. Leptospirosis disebabkan oleh adanya infeksi dari bakteri Leptospira spp. penyebab penyakit yang memiliki bentuk seperti benang yang terpilin padat dan bisa bertahan hidup jika terdapat oksigen. Leptospira spp. dapat masuk ke tubuh manusia melalui luka pada kulit, selaput mukosa mulut, dan tali pusar (plasenta).

Leptospirosis di Indonesia ditemukan dapat menginfeksi manusia pada tahun 1892 oleh Van der Scheer dan baru dilakukan isolasi oleh Vervoort pada tahun 1922. Di Indonesia, hanya 8 dari 34 provinsi yang melaporkan adanya kasus leptospirosis pada tahun 2018.Di negara-negara Barat dengan iklim temporal, angka kejadian leptospirosis meningkat pada awal musim gugur atau akhir musim panas, sedangkan di negara-negara dengan iklim tropis, angka kejadian leptospirosis meningkat pada musim hujan. Pada negara-negara yang beriklim tropis, angka kejadian kasus leptospirosis 10 kali lebih sering terjadi dibandingkan di negara-negara dengan iklim temporal. Terdapat beberapa faktor risiko yang mendukung terjadinya leptospirosis, yaitu, (1) pekerjaan, terdapat beberapa pekerjaan yang memiliki risiko tinggi terhadp terjadinya leptospirosis misalnya pekerja pembersih selokan, peternak, dan petani, (2) kegiatan yang dilakukan di area yang berair dan pergi ke wilayah endemis leptospirosis, (3) lingkungan, terdapat beberapa lingkungan yang berisiko tinggi terhadap kejadian leptospirosis misalnya lingkungan lumpur, wilayah yang sering terkena banjir, lingkungan di dekat garis pantai, dan lingkungan di dataran rendah, dan (4) perilaku manusia misalnya memiliki riwayat berinteraksi dengan hewan, perawatan luka yang kurang baik, kurang baiknya perawatan serta pemeliharaan lingkungan dan kebersihan diri.

Gejala dan tanda yang biasanya dirasakan oleh penderita leptospirosis biasanya tidak terlalu spesifik misalnya demam, sakit kepala, dan menggigil, di mana hal tersebut juga bisa dirasakan pada penderita penyakit-penyakit lain seperti malaria, influenza, dan DBD. Sakit kepala yang dirasakan biasanya berdenyut-denyut disertai dengan peningkatan sensitivitas mata terhadap cahaya (fotofobia). Pada penderita leptospirosis juga sering ditemukan nyeri otot dan nyeri tekan khususnya pada bagian betis dan punggung bawah. Selain itu, sering ditemukan pelebaran pembuluh darah pada selaput bening yang menutupi permukaan depan mata (konjungtiva), perdarahan pada bagian bawah konjungtiva (subkonjungtiva), dan sklera mata berwarna kuning (ikterik). Pada kedua tungkai kaki bagian bawah terdapat bercak kemerahan (ruam) yang biasanya muncul pada hari keempat perjalanan penyakit yang disertai dengan sakit kepala, nyeri otot, dan pembesaran pada limpa. Gejala yang muncul pada saluran pencernaan biasanya berupa sakit perut, diare, muntah, dan mual. Sakit perut bisa disebabkan oleh peradangan pada saluran empedu atau peradangan pada pankreas. Pada penderita leptospirosis berat dapat terjadi gangguan dari fungsi berbagai organ misalnya hati, paru-paru, otak, dan ginjal.

Pengobatan leptospirosis harus dilakukan peninjauan terkait tingkat keparahannya terlebih dahulu. Pada penderita leptospirosis ringan dapat diberikan doksisilin 100 mg dua kali sehari selama seminggu, sedangkan pada penderita leptospirosis sedang dan berat dapat diberikan penicilin G intravena 1,5 MU selama seminggu. Pada orang yang berisiko tinggi terkena leptospirosis dapat diberikan doksisilin 200 mg per minggu. Pada penderita dengan gagal ginjal harus dilakukan hemodialisis, sedangkan pada pemderita dengan perdarahan di paru-paru harus dilakukan ventilasi pernafasan mekanis.

Referensi

Widoyono. Penyakit Tropis, Epidemiologi, Penularan, Pencegahan dan      Pemberantasannya. Jakarta: Erlangga, 2008.

Aziz, Thoriq & Jhons Fatriyadi Suwandi.Leptospirosis : Intervensi Faktor Resiko             Penularan. Lampung: Fakultas Kedokteran Universitas Lampung,         2019.

Gasem MH, Hadi U, Alisjahbana B, et al. Leptospirosis in Indonesia: diagnostic   challenges       associated with atypical clinical manifestations and limited                   laboratory capacity. BMC Infect Dis.             2020;20(1):179. Published 2020 Feb 27.       doi:10.1186/s12879-020-4903-5

Wang S, Stobart Gallagher MA, Dunn N. Leptospirosis. [Updated 2021 Aug 11]. In:         StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2021                 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK441858/

Haake DA, Levett PN. Leptospirosis in humans. Curr Top Microbiol Immunol.     2015;387:65-97.             doi:10.1007/978-3-662-45059-8_5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X
Selamat Datang di Chat Dokter Online
Selamat Datang di Chat Dokter Online