Kenali Penyakit: Kremian

  • Apa itu kremian?

Infeksi cacing kremi diakibatkan oleh suatu cacing gelang kecil berwarna putih yang dikenal dengan Enterobius vermicularis. Infeksi cacing kremi mampu diobati baik dengan obat bebas atau resep. Akan tetapi infeksi ulang yang mudah terjadi harus diberi upaya pencegahan (CDC, 2020). Kremian merupakan salah satu dari sekian infeksi parasit yang paling sering dijumpai di dunia dan terutama menyerang anak-anak (Paniker, 2013).

  • Apa penyebab kremian?

Cacing kremi menginfeksi seseorang yang menelan telurnya baik secara langsung maupun tidak langsung. Telur-telur ini kemudian ditaruh oleh cacing di sekitar anus dan mampu dibawa ke tangan, kemudian ke mainan, tempat tidur, pakaian, serta kursi toilet. Meletakkan bagian tubuh terkontaminasi di sekitar area mulut dapat menyebabkan seseorang tertelan telur dari cacing ini dan akhirnya terinfeksi. Ukuran telur sangat kecil sehingga dapat tertelan saat bernapas (CDC, 2020). Kira-kira 1 bulan setelah berada di usus, cacing betina dewasa akan mulai bergerak ke bawah dan akan keluar dari tubuh melalui anus. Di sana dia meletakkan beberapa ratus telur di kulit sekitar anus, biasanya pada malam hari atau pagi hari sebelum cahaya memasuki kamar tidur. Rasa gatal yang hebat sering menyertai proses ini, terutama pada malam hari. Selain itu, telur dapat tetap hidup hingga beberapa hari jika kondisinya sesuai (Ridley, 2012).

  • Apa saja gejala dan tanda kremian?

Gejala yang paling khas dari infeksi cacing kremi berupa gatal di anus dan sekitarnya khususnya pada malam hari, yang disebabkan oleh pergerakan cacing betina dari anus ke kulit sekitarnya ketika ia merangkak ke luar anus untuk menaruh telur. Rasa gatal pada malam hari inilah yang kemudian menyebabkan kesulitan tidur pada penderita (Garcia, 2016). Rasa gatal yang kadang-kadang terasa hebat menyebabkan garukan yang kadang menimbulkan goresan di kulit sekitar anus. Pada sebagian besar orang yang terinfeksi, rasa gatal ini mungkin menjadi satu-satunya gejala, sedangkan sekitar 1/3 orang lainnya tidak menunjukkan gejala (Garcia, 2016).

Selain itu, pada wanita yang terinfeksi berat, mungkin ditemukan cairan vagina yang berlendir. Hal ini dikarenakan pergerakan lanjutan dari cacing kremi yang dapat memasuki vagina atau rahim, di mana cacing ini akan melanjutkan perkembangannya (Garcia, 2016).

Di luar gejala-gejala di atas, terdapat kemungkinan gejala maupun tanda infeksi cacing kremi lainnya sebagai berikut:

  • Gejala lain lainnya yang dihubungkan dengan infeksi cacing kremi khususnya pada anak-anak. Gejala-gejala tersebut mencakup rasa gugup dan perilaku mengganggu, kesulitan untuk tidur, mimpi buruk, dan bahkan kejang-kejang (Garcia, 2016).
  • Penggarukan anus yang parah mengakibatkan goresan pada kulit yang dapat berkembang menjadi infeksi bakteri sekunder.
  • Pada beberapa kasus langka, infeksi cacing kremi menyebabkan kehilangan nafsu makan
  • Cacing kremi dewasa yang terlihat di tinja.
  • Telur cacing kremi yang mampu dilihat dengan mata telanjang serta terfokus menempel pada kulit di sekitar anus.
  • Cacing ini kadang-kadang ditemukan pada usus buntu yang diangkat melalui pembedahan dan telah diklaim sebagai penyebab radang usus buntu (Ridley, 2012).
  • Bagaimana pengobatan kremian?

Terlebih dahulu, dokter akan melakukan prosedur guna menguji sampel dari kotoran pasien sebelum mengidentifikasi positif cacing kremi sebagai penyebab gejala infeksi. Berikutnya, obat biasanya diresepkan baik untuk orang yang terinfeksi maupun semua orang-orang yang tinggal serumah. Semua orang yang tinggal serumah harus meminum obat, terlepas dari ada atau tidaknya gejala pada mereka. Hal ini dilakukan guna menghentikan penularan lebih lanjut mengingat infeksi ini cukup menular dan beberapa di antaranya tidak menunjukkan gejala umum maupun tanda-tanda infeksi lainnya (Ridley, 2012).

Obat yang diberikan dapat berupa pyrantel pamoate (1x 11 mg per kg, maksimum 1g), albendazole (1x 400 mg) atau mebendazole (100 mg sekali) yang digunakan untuk terapi dosis tunggal, sedangkan piperazine harus diberikan setiap hari selama satu minggu (Paniker, 2013).

Biasanya, setelah pemberian obat satu dosis akan diikuti dengan dosis kedua dalam selang waktu dua minggu kemudian. Dosis kedua ini bertujan membasmi sisa cacing yang masih hidup. Resep dari dokter dibutuhkan sebelum memasuki tahap pengobatan. Untuk memastikan pemberantasan cacing sudah tuntas, pasien perlu untuk diperiksa kembali setelah pengobatan telah selesai (Ridley, 2012).

Infeksi berulang dapat terjadi apabila sprei dan pakaian tidur penderita tidak dicuci dengan menyeluruh sehingga tak mampu membunuh baik telur maupun sisa cacing kremi. Kebersihan diri pribadi juga menjadi faktor penting, contohnya seperti mencuci tangan secara benar dan menyeluruh setelah mengunakan  kamar mandi maupun setelah berinteraksi dengan orang lain, misalnya setelah bermain pada anak-anak (Ridley, 2012). Pembersihan kuku dan mandi secara teratur juga dapat mencegah infeksi cacing kremi ini (Paniker, 2013).

Daftar Pustaka

CDC. 2020. Parasites – Enterobiasis (also known as Pinworm Infection). USA: U.S. Department of Health & Human Services.

Garcia, Lynne Shore. 2016. Diagnostic Medical Parasitology 6th Edition. Washington DC: ASM Press.

Paniker, CK Jayaeam. 2013. Paniker’s Textbook of Medical Parasitology 7th Edition. New Delhi: Jaypee Brothers Medical Publishers (P) Ltd.

Ridley, John W. 2012. Parasitology For Medical and Clinical Laboratory Professionals. Delmar: Cengage Learning.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X
Selamat Datang di Chat Dokter Online
Selamat Datang di Chat Dokter Online