Kenali Penyakit: Kista dan Abses Kelenjar Bartholini

Kelenjar Bartholini adalah sebuah kelenjar yang memiliki ukuran kurang lebih 0,5 cm yang terletak di kedua sisi bibir vagina. Kelenjar ini mengeluarkan cairan kental ke dalam saluran yang akan bermuara di suatu rongga vagina yang disebut vestibulum. Cairan kental yang dikeluarkan oleh kelenjar Bartholini ini berfungsi untuk melumasi vagina wanita ketika melakukan hubungan seksual sehingga mengurangi rasa sakit yang ditimbulkan dari aktivitas hubungan seksual tersebut. Apabila terjadi penyumbatan di saluran dari kelenjar Bartholini, hal ini akan menyebabkan terkumpulnya cairan kental tersebut sehingga terjadi pembesaran dari kelenjar Bartholini dan akan membentuk seperti kantung. Kondisi pembesaran tersebut disebut dengan kista Bartholini. Namun, kista Bartholini juga dapat terjadi tanpa penyebab yang dapat diidentifikasi. Kista Bartholini yang terinfeksi oleh bakteri seperti Escherichia coli, Staphylococcus aureus, Neisseria gonorrhoeae, dan Chlamydia trachomatis dapat berkembang menjadi penumpukan cairan nanah di kelenjar Bartholini atau yang dikenal. abses Bartholini. Kurang terjaganya kebersihan daerah kewanitaan merupakan salah satu faktor risiko penyebab timbulnya kista dan abses kelenjar Bartholini. Menurut Yudianto dkk tahun 2021, kista dan abses kelenjar Bartholini ini dialami oleh sekitar 2% wanita pada usia reproduktif, dengan rentang usia 20-29 tahun. Kista Bartholini biasanya terjadi dimulai sejak pubertas dan seiring bertambahnya usia akan meningkat.

            Kista Bartholini dapat tumbuh dengan ukuran kecil dengan rata-rata 1-3 cm dan biasanya terjadi hanya pada satu sisi bibir vagina. Pada umumnya kista Bartholini yang berukuran kecil tidak menimbulkan gejala. Namun, pada kista yang lebih besar akan menimbulkan beberapa gejala yang dapat mengganggu kenyamanan, terutama saat melakukan aktivitas duduk, berjalan, dan berhubungan seksual. Selain itu, kista Bartholini juga dapat menyebabkan iritasi saluran kemih dan nyeri pada pinggul yang tidak spesifik tempatnya. Pada wanita yang mengalami abses Bartholini dapat menimbulkan gejala berupa nyeri pada daerah kewanitaan yang berkembang secara cepat dan rasa nyeri semakin lama akan terasa semakin bertambah.  Kista dan abses  Bartholini  dapat  dialami  oleh  wanita yang sedang hamil  ataupun  tidak  hamil. Ada tiga dugaan yang menjelaskan terjadinya kista dan abses kelenjar Bartholini. Dugaan pertama bahwa kemungkinan risiko kista dan absen kelenjar Bartholini meningkat saat kehamilan. Dugaan kedua bahwa adanya kemungkinan bahwa penderita melakukan aktivitas seksual secara oral (melalui mulut). Hal ini karena ditemukannya hubungan antara peningkatan kasus infeksi organ kelamin dengan peningkatan aktivitas seksual secara oral yang dibuktikan dengan penemuan-penemuan bakteri yang menginfeksi saluran pernapasan di organ kelamin. Dugaan ketiga kemungkinan karena adanya efek yang disebabkan oleh kekurangan suatu enzim yang disebut enzim glukosa-6- fosfat dehidrogenase. Selain itu, kista kelenjar Bartholini juga dapat terjadi disebabkan beberapa kondisi, seperti akibat terjadi benturan pada area tersebut, terjadi setelah dilakukan tindakan bedah tertentu di daerah sekitar vagina, atau terjadi akibat persalinan.

Pada kasus kista Bartholini yang tidak menunjukkan gejala, tidak terlalu diperlukan untuk dilakukan perawatan lebih lanjut. Terapi dengan air hangat di daerah kewanitaan dan pemberian obat pereda nyeri merupakan salah satu cara sederhana yang dapat diberikan kepada wanita yang mengalami kista atau abses kelenjar Bartholini yang dapat mengering secara spontan dan cepat. Pengobatan dengan antibiotik terhadap kista dan abses kelenjar Bartholini yang ringan atau tidak parah juga tidak diperlukan. Namun, terdapat kondisi-kondisi tertentu yang memerlukan pengobatan medis dengan antibiotik. Menurut Debora dkk tahun 2019, antibiotik diberikan untuk salah satu kondisi berikut, yaitu untuk kista dan abses kelenjar Bartholini yang sedang sampai parah, sebagai obat tambahan jika dilakukan perawatan bedah, terdapat bukti penurunan sistem kekebalan tubuh, adanya risiko bakteri yang diketahui sudah kebal terhadap pengobatan antibiotik sebelumnya, adanya tanda infeksi di dalam tubuh contohnya terjadi demam, adanya infeksi kulit akibat bakteri di sekitar area tersebut, tidak dirasakan adanya perbaikan setelah dilakukan perawatan bedah dan pemasangan selang penampungan, dan yang terakhir kehamilan. Kista dan abses kelenjar Bartholini memiliki beberapa pilihan tindakan bedah yang menunjukkan keberhasilan, yaitu tindakan pembuatan lubang saluran baru dengan cara pembuatan sayatan dan pemasangan selang untuk menampung cairannya. Selain itu, dapat juga dilakukan pembuatan luka terbuka untuk meningkatkan penyembuhan. Tindakan bedah lain yang dapat juga dilakukan, yaitu dengan pengangkatan dan penghancuran kelenjar Bartholini dengan menggunakan terapi laser karbon dioksida. Wanita dengan kista dan abses kelenjar Bartholini yang sedang dalam kondisi hamil diberikan perlakuan dengan cara yang sama seperti wanita yang tidak hamil, kecuali untuk pengambilan tindakan pengangkatan dan penghancuran kelenjar Bartholini karena terdapat peningkatan risiko terjadinya perdarahan.

Terdapat bentuk-bentuk pencegahan yang dapat dilakukan wanita untuk memperkecil risiko mengalami kista dan abses kelenjar Bartholini. Hal pertama, yaitu menjaga kebersihan organ kewanitaan dengan cara yang benar dan bersih. Hal kedua, yaitu para wanita hendaknya juga melakukan aktivitas hubungan seksual dengan cara- cara yang benar, hindari aktivitas seksual yang meningkatkan risiko penyakit tersebut, seperti aktivitas seksual melalui oral (mulut). Hal terakhir yang dapat dilakukan untuk menghindari penyakit ini, yaitu sebisa mungkin untuk menjaga daerah kewanitaan dari benturan-benturan yang dapat mengakibatkan cedera sehingga risiko dapat meningkat akibat cedera tersebut.

Sumber Pustaka:

  • Dole, D. M., & Nypaver, C. (2019). Management of Bartholin duct cysts and gland abscesses. Journal of midwifery & women’s health64(3), 337-343.
  • Lee, W. A., &. Wittler,. M. (2021). Bartholin Gland Cyst. In StatPearls. StatPearls Publishing.
  • Male, H. D. C., & Giri, N. M. A. (2019). MANAGEMENT OF BARTHOLIN’S GLAND ABSCESS IN NON PREGNAN WOMAN. Jurnal Medical Profession (Medpro)1(1), 68-73.
  • Omole, F., Kelsey, R. C., Phillips, K., & Cunningham, K. (2019). Bartholin Duct Cyst and Gland Abscess: Office Management. American family physician99(12), 760-766.
  • Vaniary, T. I. N., & Martodihardjo, S. (2017). A Retrospective Study: Bartholin Cyst and Abscess. Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin29(1), 52-58.
  • Yudianto, V. R., Theola, J., & Suryoadji, K. A. (2021). Tatalaksana Kista dan Abses Bartholin. Cermin Dunia Kedokteran48(4), 249-251.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X
Selamat Datang di Chat Dokter Online
Selamat Datang di Chat Dokter Online