Kenali Penyakit: Kenali dan Cegah Ketoasidosis Diabetik

Apa itu Ketoasidosis Diabetik?

Ketoasidosis Diabetik (KAD) merupakan komplikasi diabetes yang mengancam jiwa. Biasanya, KAD terlihat pada orang dengan diabetes mellitus tipe 1, meskipun dapat terjadi juga pada orang dengan diabetes mellitus tipe 2. KAD adalah keadaan tubuh kekurangan insulin, kadar gula darah tinggi, dehidrasi, dan asidosis atau kadar asam dalam tubuh tinggi. Insulin sendiri merupakan hormon untuk mengendalikan gula darah dan dihasilkan dalam pankreas. Pada kebanyakan kasus, pemicunya adalah infeksi, diabetes yang terjadinya baru, atau kurang patuh terhadap pengobatan, serta penyakit medis lainnya (Lizzo, et al., 2021; Mohani, 2006).

Apa yang menyebabkan kondisi ini?

Diabetes mellitus ditandai dengan adanya kekurangan insulin dan peningkatan kadar gula darah. Biasanya, begitu kadar glukosa di darah tinggi, insulin akan menurunkan proses pemecahan glukosa cadangan dari hati dan meningkatkan pengambilan glukosa oleh sel lain seperti otot rangka dan jaringan lemak. Hal ini menyebabkan kadar gula darah menurun. Pada ketoasidosis diabetik, kekurangan insulin dan peningkatan hormon yang kerjanya berlawanan dengan insulin menyebabkan mekanisme produksi glukosa lainnya (seperti glukoneogenesis dan glikogenolisis) meningkat dan terganggunya pemanfaatan glukosa oleh sel tubuh. Akhirnya, kadar gula darah akan semakin tinggi. Tak hanya itu, tubuh juga akan mengkompensasi kegagalan pemanfaatan glukosa ini dengan pelepasan asam lemak dan pemanfaatannya menjadi energi yang menghasilkan suatu zat bersifat asam yaitu badan keton. Hal ini menyebabkan kadar keton di dalam darah meningkat dan kondisi tubuh menjadi lebih asam (ketoasidosis) (Lizzo, et al., 2021).

Pada kebanyakan kasus, faktor pemicu KAD adalah infeksi, diabetes yang terjadinya baru, atau kurang patuh terhadap pengobatan, pemberhetian atau pengurangan penggunaan insulin, serta penyakit medis lainnya. Infeksi yang sering terjadi adalah pneumonia dan infeksi saluran kemih. Penyalahgunaan alkohol, penyumbatan pembuluh darah paru, trauma, serangan jantung, radang pancreas, stroke, dan penggunaan obat-obatan juga menjadi faktor pemicu KAD. Obat-obatan yang dapat memengaruhi KAD adalah yang mengandung kortikosteroid, tiazid, agen simpatomimetik, dan pentamidin (Lizzo, et al., 2021; Mohani, 2006).

Apa gejala dan tanda yang dapat ditemukan?

Pasien dengan ketoasidosis diabetik dapat datang dengan berbagai gejala dan hasil pemeriksaan sebagai berikut

  • Gejala tinggi kadar gula darah seperti nafsu makan meningkat dari biasanya, BAK lebih sering dari biasanya, dan rasa haus terus-menerus.
  • Tanda dehidrasi karena berkurangnya cairan dalam tubuh, seperti penurunan keluaran urin, penurunan keringat, dan mulut kering.
  • Gejala lain seperti mual, sakit perut, muntah, hilangnya nafsu makan, serta penurunan berat badan.
  • Gejala infeksi seperti batuk dan demam.
  • Pasien yang mungkin mengalami pembengkakan di otak datang dengan gejala sakit kepala atau kebingungan.
  • Peningkatan denyut jantung.
  • Sesak napas
  • Terciumnya aroma buah pada napas pasien yang menunjukkan adanya aseton.
  • Pada kasus yang parah, pasien mungkin mengalami penurunan kesadaran (Lizzo, et al., 2021).

Bagaimana pengobatan yang harus diberikan kepada penderita?

Terapi insulin, penggantian elektrolit tubuh, dan pemeliharaan cairan tubuh merupakan tatalaksana utama pada KAD bertujuan untuk menstabilkan kondisi pasien.

  • Penggantian cairan tubuh dengan pemberian infus bertujuan untuk mengatasi hilangnya cairan tubuh, membersihkan keton, dan memperbaiki kontrol gula darah.
  • Terapi insulin dengan infus melalui pembuluh darah vena (intravena) atau dengan suntikan melalui bawah kulit (subkutan) pada pasien dengan KAD yang ringan bertujuan untuk menurunkan kadar gula darah.
  • Penggantian elektrolit tubuh seperti magnesium, kalium, dan fosfat bertujuan untuk mengembalikan keseimbangan elektrolit tubuh.
  • Mengobati KAD dan faktor pemicu juga harus dilakukan. Jika KAD dipicu oleh infeksi, pemerian antibiotik dapat dilakukan (Lizzo, et al., 2021).

Untuk mencegah KAD, edukasi merupakan hal penting yang harus dilakukan. Edukasi dapat meliputi hal berikut ini

  • Diabetes (penyebab, komplikasi jangka panjang dan pendek)
  • Manajemen hari sakit (pentingnya melanjutkan insulin, gejala dan tanda KAD, pentingnya kepatuhan dalam berobat)
  • Pengecekan gula darah dan kadar keton secara rutin.
  • Kondisi ketika harus menghubungi penyedia layanan kesehatan.
  • Pola makan dan hidup sehat (Lizzo, et al., 2021; Eledrisi &Elzouki, 2020).

Referensi:

  1. Lizzo JM, Goyal A, Gupta V. Adult Diabetic Ketoacidosis. [Updated 2021 Jul 18]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2021 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK560723/
  2. Eledrisi, M. S., & Elzouki, A. N. (2020). Management of Diabetic Ketoacidosis in Adults: A Narrative Review. Saudi journal of medicine & medical sciences, 8(3), 165–173. https://doi.org/10.4103/sjmms.sjmms_478_19
  3. Mohani, Chandra Irwanadi. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi VI. Jakarta: FK UI;2006.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X
Selamat Datang di Chat Dokter Online
Selamat Datang di Chat Dokter Online