Kenali Penyakit: Kelainan Penis Bawaan Lahir, Kenali Hipospadia

Kebanyakan anak laki-laki terlahir dengan penis yang terlihat normal dan berfungsi dengan baik. Akan tetapi, beberapa anak laki-laki mungkin terlahir dengan kondisi khusus yang disebut dengan hipospadia. Sekitar 4-6 dari 1000 bayi laki-laki yang lahir mengalami kelainan bawaan lahir, hipospadia. Hipospadia membentuk penis yang tidak berfungsi dengan baik serta tidak terlihat normal.

Sesuai dengan asal kata bahasa latin hipo (bawah) dan spodion (lubang), maka hipospadia dapat diartikan sebagai kelainan bawaan yang ditandai dengan adanya lubang saluran kencing atau uretra yang berada di sisi depan bawah dari penis. Letak yang tidak normal ini menyebabkan terjadinya perubahan percikan urine saat keluar dari penis. Selain perubahan letak, hipospadia umumnya diikuti oleh bentuk penis yang melengkung ke bawah atau disebut Chodee.

Kondisi hipospadia pada setiap anak laki-laki penderita sangat bervariasi. Pada sebagian besar kasus, lubang kencing terletak di bagian bawah kepala penis dan sebagian kasus lain terletak di bagian bawah batang penis. Adapun kondisi yang jarang terjadi, yaitu lubang kencing berada di area skrotum atau buah zakar.

Terdapat beberapa gejala yang dapat dialami oleh anak laki-laki dengan hipospadia dikarenakan letak lubang kencingnya yang tidak normal, yaitu sebagai berikut :

  1. Pancaran air kencing atau urine yang tidak normal saat buang air kecil
  2. Kulup hanya menutupi bagian atas kepala penis
  3. Bentuk penis yang bengkok dan  melengkung ke bawah

Hipospadia disebabkan oleh gangguan perkembangan saluran lubang kencing (uretra) dan kulup penis saat dalam kandungan. Hipospadia berhubungan dengan kondisi genetik yang diturunkan dari keluarga sebanyak 57-77%. Memiliki ayah atau saudara laki-laki yang pernah mengalami hipospadia dan kelahiran secara prematur dapat meningkatkan risiko anak mengalami hipospadia. Penyebab lain kondisi ini belum diketahui secara pasti. Akan tetapi, terdapat beberapa faktor sang ibu yang dapat meningkatkan risiko seorang anak mengalami hipospadia, yaitu :

  • Faktor usia, hamil pada saat berusia 35 tahun ke atas
  • Faktor kesehatan, obesitas dan diabetes saat hamil
  • Faktor riwayat terapi hormon untuk merangsang kehamilan
  • Faktor paparan asap rokok atau pestisida saat kehamilan

Pada kebanyakan kasus, bayi dengan hipospadia dapat segera didiagnosis saat kelahiran melalui pemeriksaan fisik, tanpa harus melewati tahap pemeriksaan penunjang. Adapun kondisi dengan sedikit perpindahan lokasi meatus mungkin tidak kentara dan lebih sulit diidentifikasi. Pemeriksaan lanjutan pada bayi, seperti pemeriksaan genetic dan uji pencitraan akan dibutuhkan pada kasus hipospadia parah. Pemeriksaan ini diperlukan untuk mengetahui kelainan kelamin yang dialami bayi.

Jika posisi lubang kencing sangat dekat dari posisi normal serta bentuk penis tidak bengkok, penanganan pada bayi mungkin tidak diperlukan. Akan tetapi, jika letak lubang kencing jauh dari posisi normalnya dan terjadi kebengkokan pada penis, operasi perlu dilakukan. Idealnya, operasi dapat dilakukan saat bayi berusia 6 sampai 12 bulan. Operasi ini bertujuan untuk menempatkan lubang kencing ke posisi normal dan memperbaiki kebengkokan pada penis. Pada kasus hipospadia parah, operasi mungkin akan dilakukan lebih dari sekali.

Umumnya, fungsi penis anak akan kembali normal setelah operasi. Namun, tetap diperlukan kontrol rutin pasca operasi ke dokter untuk memastikan hal tersebut.

Bila tidak ditangani, anak dengan hipospadia dapat mengalami komplikasi berupa kesulitan belajar berkemih, kelainan bentuk penis saat ereksi, dan gangguan ejakulasi. Kelainan bentuk penis saat ereksi dan gangguan ejakulasi ini dapat mengakibatkan penderita hipospadia lebih sulit untuk memiliki anak.

Jelas bahwa kasus hipospadia yang tidak ditangani dapat menyebabkan komplikasi yang menurunkan kualitas hidup penderitanya. Oleh karena itu, segera periksakan anak Anda ke dokter jika melihat sejumlah gejala seperti di atas, terutama jika posisi lubang kencing pada anak tidak normal. Hasil yang lebih baik dapat dicapai dengan semakin cepatnya penanganan.

Ibu hamil dapat mengurangi risiko hipospadia pada janin dengan melakukan sejumlah hal sederhana, seperti menghindari rokok, minuman beralkohol, dan paparan pestisida, mengonsumsi suplemen asam folat, mempertahankan berat badan ideal, serta rutin memeriksakan kehamilan ke dokter kandungan.

Sangat dianjurkan untuk melakukan konsultasi ke dokter kandungan bagi pasangan yang sedang merencanakan kehamilan dan memiliki faktor risiko terjadinya hipospadia. Hal ini dilakukan untuk mengurangi kemungkinan kasus hipospadia yang dapat terjadi sebelum kehamilan.

Daftar Pustaka :

Granberg, Candece. 2018. Diseases and Conditions: Hypospadias. Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/hypospadias/diagnosis-treatment/drc-20355153

Alli, Renee. 2020. What is Hypospadias. WebMD.

https://www.webmd.com/parenting/baby/what-is-hypospadias#1

S, Bambang. 2018. Karakteristik Pasien Hipospadia di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung Tahun 2015-2018. Bandung : Universitas Padjadjaran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X
Selamat Datang di Chat Dokter Online
Selamat Datang di Chat Dokter Online