Kenali Penyakit: Infeksi Saluran Kemih Bagian Bawah Non Kompliata

Infeksi saluran kemih menjadi suatu penyakit yang sangat sering terjadi. Infeksi Saluran Kemih (ISK) non kompliata adalah kondisi infeksi saluran kemih yang biasanya terjadi pada orang dewasa, yang banyak disebabkan oleh faktor-faktor yang belum diketahui, adanya infeksi berulang, ataupun adanya faktor risiko di luar traktus urogenitalis (saluran kemih). ISK non kompliata dibagi menjadi dua, yaitu ISK non kompliata bagian atas (pielonefritis akut) dan ISK non kompliata bagian bawah (sistitis akut). ISK non kompliata bagian bawah (sistitis) adalah adanya inflamasi atau peradangan pada sel urotelium yang melapisi kandung kemih akibat adanya invasi mikroorganisme ke saluran kemih.

Infeksi saluran kemih non kompliata sedikit kasusnya pada pria dan biasanya diderita oleh pria dengan rentang usia sekitar 15-50 tahun. Infeksi saluran kemih non kompliata ini banyak diderita oleh wanita tanpa disertai adanya kelainan fungsional dan struktural saluran kemih ataupun gangguan pada ginjal. Namun, faktor risiko pada wanita usia tua yang sudah mengalami menopause tentunya berbeda dengan wanita muda yang belum mengalami menopause. Pada wanita yang sudah menopause terdapat faktor risiko adanya defisiensi hormon estrogen. Lalu, secara umum terdapat beberapa hal yang menjadi penyebab ISK non kompliata. Adanya riwayat melakukan hubungan seksual, riwayat mengalami ISK, faktor usia, penggunaan kateter, adanya faktor virulensi bakteri, serta kurangnya menjaga kebersihan daerah kelamin menjadi penyebab terjadinya penyebaran dan perkembangan bakteri sehingga terjadi sistitis (ISK non kompliata bagian bawah).

Gejala yang dialami apabila terjadi ISK non kompliata bagian bawah (sistitis) adalah timbulnya rasa nyeri atau tidak nyaman saat buang air kecil (disuria), jumlah urin yang sedikit pada saat buang air kecil, sering buang air kecil karena kandung kemih tidak mampu menampung jumlah urin pada normalnya (polikasiuria), kondisi keluarnya urin terlebih dahulu sebelum timbul desakan untuk buang air kecil (urgensi), nyeri perut pada bagian bawah, serta timbulnya nyeri pada bagian supra pubis (bagian perut bawah di bawah pusar). Pada kondisi sistitis, gejala yang paling sering ditemukan adalah sakit saat berkemih (disuria) dan peningkatan frekuensi berkemih. Hal yang harus diperhatikan adalah bahwasanya ISK non kompliata bagian bawah (sistitis) ini dapat terjadi secara berulang pada individu sehingga tidak menutup kemungkinan dapat terjadi infeksi kembali setelah memiliki riwayat ISK non kompliata bagian bawah (sistitis) sebelumnya.

Penatalaksanaan pada ISK non kompliata bagian bawah (sistitis) harus dilakukan untuk mencegah terjadinya komplikasi, menghilangkan gejala yang dialami pasien, dan mengurangi risiko perkembangan penyakit ke arah yang lebih berat. Pengobatan ISK non kompliata bagian bawah (sistitis) menggunakan antibiotik yang benar disertai dengan pemeriksaan resistensi mikroorganisme dan uji sensitivitas antibiotik. Antibiotik yang biasanya diberikan adalah TMP-SMX atau fluoroquinolone 160-800 mg, nitrofurantoin (tidak dianjurkan untuk wanita pada trimester ketiga kehamilan), fosfomisin (dapat diberikan pada wanita hamil), sulfametoxazole, dan antibiotik anjuran dokter lainnya. Antibiotik yang diberikan harus dihabiskan sesuai dengan anjuran dan resep dokter.

Terdapat beberapa cara untuk mencegah terjadinya ISK non kompliata bagian bawah (sistitis) dan untuk mencegah agak tidak terjadi infeksi ulang adalah dengan tidak menunda saat akan buang air kecil, memperhatikan kebersihan daerah genital atau kelamin, mengganti pakaian dalam setiap hari untuk mencegah perkembangbiakkan bakteri secara cepat, meminum air putih yang cukup dan disarankan 2 liter dalam sehari, menggunakan air mengalir untuk membersihkan diri setelah berkemih, dan buang air kecil setelah melakukan hubungan seksual untuk mencegah invasi bakteri ke saluran kemih.

Daftar Pustaka

Seputra, Kurnia Penta; Tarmono; Noegroho, Bambang S.; Mochtar, Chaidir A.; Wahyudi, Irfan; Renaldo, Johan. Hamid, Agus Rizal A.H.; Yudiana, I Wayan; Ghinorawa, Tanaya. 2015. Penatalaksanaan Infeksi Saluran Kemih dan Genitalia Pria. Jakarta: Ikatan Ahli Urologi Indonesia.

Pranantyo, Lilik Eko; Majdawati, Ana. 2012. Hubungan Penebalan Dinding Kandung Kemih Pada Ultrasonografi Dengan Leukosit Esterase Pada Penderita Klinis Infeksi Kandung Kemih (Sistitis). Jurnal Ebers Papyrus Vol 18 No. 1.

Sigler, M., & et al. (2015). Assessment of Appropriate Antibiotic Prescribing for Urinary Tract Infections in an Internal Medicine Clinic. Southern Medical Journal , 108 (5).

Anggarini; Rissa, Fellecia; Hadi; Purnomo; Hapsari; Rebriarina. 2013. FAKTOR RISIKO INFEKSI SALURAN KEMIH OLEH MULTI DRUG RESISTANT ORGANISMS PADA PASIEN YANG DIRAWAT DI RSUP DR KARIADI. Universitas Diponegoro.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X
Selamat Datang di Chat Dokter Online
Selamat Datang di Chat Dokter Online