Kenali Penyakit: Hipoglikemia Berat

Hipoglikemia merupakan penurunan tingkat glukosa dalam darah atau biasa disebut dengan gula darah rendah. Normalnya, kadar glukosa dalam darah berada di antara 70–110 mg/dL. Bagi banyak penderita diabetes, angka glukosa darah yang rendah menunjukkan penurunan di bawah 70 mg/dL. Glukosa darah yang turun di bawah 55 mg/dL dianggap sebagai hipoglikemia berat. Hipoglikemia berat didefinisikan sebagai suatu kondisi terganggunya fungsi kognitif yang serius dan membutuhkan bantuan pihak ketiga guna memenuhi kebutuhan glukosa dan glukagon atau bantuan koreksi lainnya. Hipoglikemia berat berhubungan dengan kejang atau ketidaksadaran. Seseorang dengan hipoglikemia berat, mungkin tidak bisa memeriksa gula darahnya atau mengobatinya sendiri, karena itu penting untuk memastikan kerabat terdekat juga mengetahui tanda-tanda gula darah rendah, cara menguji gula darah, serta cara menggunakan kit glucagon yang ada sehingga bisa membantu dalam pengobatan jika dibutuhkan.

Berdasarkan literatur yang ada, faktor risiko untuk hipoglikemia dibagi atas faktor tradisional dan nontradisional. Faktor tradisional berarti adanya faktor yang berhubungan dengan hipoglikemia dan terbukti dalam literatur serta masuk akal biologis, seperti usia, jenis kelamin, ras, IMT (Indeks Massa Tubuh), rentang waktu menderita diabetes, penggunaan obat penurun glukosa, kontrol glikemik, fungsi ginjal, albuminuria, dan kognisi. Sedangkan, faktor nontradisional berarti faktor yang memiliki kemungkinan biologis lebih terbatas tetapi sudah ada di satu atau dua penelitian terkait hipoglikemia berat, di antaranya cacat fungsional, riwayat penyakit yang berhubungan dengan jantung dan pembuluh darah, riwayat keluarga diabetes, pendidikan, serta penggunaan obat antidepresan dan β-blocker.

Lee, et al. dalam penelitiaannya menemukan bahwa usia yang lebih tua, ras kulit hitam, kontrol glikemik yang buruk, penggunaan obat penurun glukosa, kerusakan ginjal, dan kognisi yang buruk berkaitan erat dengan risiko hipoglikemia berat. Selain itu, Lee, et al. juga menemukan adanya hubungan yang kuat antara albuminuria dengan hipoglikemia dan individu yang menggunakan obat antidepresan meningkatkan risiko hipoglikemia berat. Namun, pada penelitiannya, tidak diamati adanya hubungan penggunaan β-blocker dengan hipoglikemia berat meskipun β-blocker dapat menekan gejala hipoglikemia.

Gejala yang mungkin dirasakan seseorang dengan hipoglikemia berat, antara lain merasa lemah, sulit untuk berjalan atau melihat dengan jelas, kebingungan dan bertingkah aneh, serta kejang. Selain itu, seseorang dengan hipoglikemia berat bisa mengalami pingsan. Suntikan hormon glukagon adalah cara terbaik untuk mengobati gula darah yang sangat rendah. Perlengkapannya tersedia dengan resep dokter, karena itu perlu dilakukan konsultasi terlebih dahulu. Seseorang yang pingsan karena hipoglikemia berat biasanya akan bangun dalam waktu 15 menit setelah suntikan hormon glukagon. Jika mereka tidak bangun dalam waktu 15 menit setelah penyuntikan, orang tersebut harus diberi satu dosis lagi. Saat dia sudah terjaga dan mampu untuk menelan, berikan sumber gula yang bekerja cepat seperti minuman ringan atau jus buah dan minta untuk makan sumber gula jangka panjang.

Sumber :

Low Blood Sugar (Hypoglycemia). 2021. CDC

Funnel, M. 2021. Low Blood Glucose (Hypoglycemia). National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Disease (NIDDK)

Lee, Alexandra K., Clare J. Lee, Elbert S. Huang, A. Richey Sharrett, Josef Coresh, and Elizabeth Selvin. 2017. Risk Factors for Severe Hypoglycemia in Black and White Adults With Diabetes: The Atherosclerosis Risk in Communities (ARIC) Study. Diabetes Care. 40: 1661–1667

Thompson, Amy E. 2015. Hypoglycemia. JAMA. 312(12): 1284

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X
Selamat Datang di Chat Dokter Online
Selamat Datang di Chat Dokter Online