Kenali Penyakit: Hipermetropi

  1. Definisi dan Penyebab

Hipermetropi mengacu pada kondisi dimana sinar cahaya yang datang tidak jatuh tepat pada retina melainkan difokuskan di belakang retina (setelah pembiasan melalui lensa mata) (Majumdar, 2021). Hal ini terjadi karena diameter depan-belakang (anteroposterior) bola mata yang lebih pendek dari keadaan normal atau karena kekuatan pembiasan lensa yang rendah (lensa terlalu pipih) atau juga karena kornea mata yang mengalami kerusakan/kelainan. Kejadian hipermetropi meningkat pada individu berusia di atas 40 tahun, tetapi anak-anak juga dapat mengalami kondisi ini (Kliegman, 2020). Saat lahir, sebagian besar manusia mengalami kondisi hyperopia/hipermetropi, namun seiring perkembangannya, bola mata hyperopia akan tumbuh normal dan cahaya yang ditangkap mata akan tepat jatuh di retina (emmetropia). Apabila terjadi kerusakan pada mata, maka hipermetropi dapat berkembang dan mengganggu penglihatan juga aktivitas (Yanoff, 2019).

Klasifikasi hipermetropi menurut American Optometric Association (AOA) dibagi menjadi 3 stase, yaitu :

  • Hipermetropi ringan, mata membutuhkan bantuan lensa ≤ +2.00 dioptri.
  • Hipermetropi sedang (mata membutuhkan bantuan lensa +2.25 sampai +5.00 dioptri.
  • Hipermetropi berat, mata membutuhkan bantuan lensa diatas +5.00 dioptri.
  • Faktor Resiko dan Penyebab

Resiko terjadinya hipermetropi akan meningkat apabila seseorang mengalami (Majumdar, 2021) :

  1. Katarak
  2. Tidak adanya lensa mata (aphakia) karena terjadi kecelakaan ataupun bawaan lahir (kongenital).
  3. Memiliki kadar gula darah yang tinggi (hiperglikemia).
  4. Memiliki penyakit diabetes mellitus.
  5. Terjadi pembengkakan (edema) pada retina dan saraf mata.
  6. Paralisis/lumpuhnya saraf mata.
  7. Riwayat keluarga yang memiliki hipermetropi disertai dengan perilaku merokok pada saat kehamilan akan meningkatkan resiko janin mengalami hipermetropi pada usia muda (anak-anak).
  8. Resiko terjadinya hipermetropi juga akan meningkat apabila seseorang memiliki kelainan bawaan seperti kelainan pada gen berupa mikrodelesi gen 16p11.2, Myelin regulatory factor gene (MYRF) mutation, Heimler syndrome, Kenny syndrome, dan X-linked retinoschisis.
  • Gejala dan Komplikasi

Gejala hipermetropi dapat berupa (Majumdar, 2021, Upadhyay, 2013):

  1. Penyimpangan posisi mata.
  2. Lelah mata (asthenopia) disertai dengan sakit kepala. Dalam beberapa pasien, dapat juga terjadi kasus “takut terhadap cahaya” akibat peningkatan sensitvitas terhadap cahaya atau disebut juga photofobia.
  3. Penglihatan kabur pada objek jarak dekat.
  4. Penglihatan kabur secara tiba-tiba dan terjadi berulang (pseudomyopia). Hal ini terjadi apabila mata melakukan upaya akomodasi berkepanjangan seperti saat membaca buku.
  5. Apabila dibiarkan, maka dapat terjadi komplikasi pada penderita hipermetropi. Komplikasi dapat berupa mata juling, mata malas, dan mata lelah.
  • Pengobatan dan Tata Laksana

Untuk mengatasi masalah penglihatan pada kondisi hipermetropi, dapat dilakukan (Majumdar, 2021) :

  1. Penggunaan kacamata dengan lensa plus (lensa biconvex) dengan tujuan untuk mengoreksi pembiasan/refraksi lensa (koreksi optik).
  2. Operasi. Namun, operasi tidak disarankan untuk anak-anak dan mata yang masih berkembang. Operasi dapat dilakukan apabila kelainan refraktif mata sudah stabil dan pertumbuhan mata juga sudah berhenti. Beberapa pilihan operasi untuk mengatasi hipermetropi antara lain Thermal laser keratoplasty (TLK), hiperopic LASIK, Conductive Keratoplasty (CK), implantasi lensa intraokuler, LASEK.

Daftar Pustaka

Castagno, V. D., dkk. (2014). Hyperopia: a meta-analysis of prevalence and a review of associated factors among school-aged children. BMC ophthalmology14, 163. https://doi.org/10.1186/1471-2415-14-163

Kliegman, dkk. 2020. Nelson Textbook of Pediatrics 21st Ed. Online : Elsevier.

Majumdar S, Tripathy K. Hyperopia. [Updated 2021 Aug 1]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2021 Jan.

Upadhyay, S. (2013). Myopia, Hyperopia and Astigmatism: A Complete Review with View of Differentiation. International Journal of Science and Research, 4(8), pp. 125-9.

Yanoff, Myron danJay S. Duker. 2019. Ophtalmology. Elsevier : Online.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X
Selamat Datang di Chat Dokter Online
Selamat Datang di Chat Dokter Online