Kenali Penyakit: Hepatitis B

Hepatitis B adalah penyakit hati yang menular karena infeksi virus hepatitis B (HBV). HBV dapat ditemukan pada cairan tubuh penderita, seperti darah, air liur, sperma, dan cairan tubuh lainnya yang menjadi sumber penularan penyakit. Penularan dapat terjadi karena memakai jarum suntik bekas penderita, transfusi darah, melakukan hubungan seksual, atau ditularkan dari ibu kepada bayinya pada saat kelahiran. Penularan dengan cara hubungan seksual lebih sering terjadi pada orang yang tidak divaksinasi dan berganti-ganti pasangan.

Masa inkubasi HBV atau waktu dari terpaparnya virus sampai munculnya gejala terjadi selama  60-90 hari. Sebagian orang tidak mengalami gejala apapun saat baru terinfeksi dan sebagian lainnya mengalami gejala berupa kelelahan, nafsu makan menurun, sakit perut, mual, serta menguningnya kulit dan mata. Gejala yang dialami dapat terjadi selama beberapa minggu.

Infeksi HBV umumnya merupakan penyakit jangka pendek (infeksi akut), namun bisa menjadi infeksi kronis jangka panjang yang dapat menyebabkan beberapa penyakit, seperti sirosis dan kanker hati yang mengancam jiwa. Sekitar 90% bayi dengan hepatitis B berkembang menjadi infeksi kronis, sedangkan orang yang terkena hepatitis B saat dewasa hanya 2%-6% menjadi infeksi kronis.

Pada pasien dengan hepatitis B akut tidak ada pengobatan khusus, namun perawatan dilakukan untuk menjaga kenyamanan dan keseimbangan nutrisi, termasuk mengganti cairan yang hilang akibat muntah. Pasien dianjurkan banyak beristirahat serta menghindari kontak erat dengan orang lain. Penting bagi pasien untuk menghindari obat-obat yang tidak diperlukan seperti asetaminofen, parasetamol, dan obat anti muntah.

Pada pasien yang mengalami hepatitis B kronis, dapat diberikan pengobatan oral, seperti tenofovir atau entecavir, termasuk agen antivirus oral. Pengobatan dapat memperlambat perkembangan sirosis, mengurangi kejadian kanker hati, dan meningkatkan kelangsungan hidup jangka panjang. Untuk metode pengobatan yang tepat dapat didiskusikan dengan dokter yang menangani.

Dalam rangka pencegahan infeksi HBV, WHO merekomendasikan agar semua bayi menerima vaksin hepatitis B sesegera mungkin setelah lahir, sebaiknya dalam waktu 24 jam, diikuti dengan 2 atau 3 dosis vaksin hepatitis B dengan jarak minimal 4 minggu untuk menyelesaikan rangkaian vaksinasi. WHO tidak merekomendasikan vaksinasi booster untuk orang yang telah menyelesaikan jadwal vaksinasi dosis ketiga. Selain vaksinasi bayi, WHO juga merekomendasikan penggunaan antivirus untuk pencegahan penularan hepatitis B dari ibu ke anak, penerapan strategi keamanan darah, serta praktik seks yang lebih aman, dengan meminimalkan jumlah pasangan dan menggunakan kondom.

Referensi:

Centers for Disease Control and Prevention. (2020). Viral Hepatitis. Hepatitis B Information. https://www.cdc.gov/hepatitis/hbv/index.htm. Di akses pada tanggal 29 Agustus 2021 pukul 11.22 WIB

Liang T. J. (2009). Hepatitis B: the virus and disease. Hepatology (Baltimore, Md.)49(5 Suppl), S13–S21. https://doi.org/10.1002/hep.22881. Di akses pada tanggal 29 Agustus 2021 pukul 12.57 WIB

Peters M. G. (2019). Hepatitis B Virus Infection: What Is Current and New. Topics in antiviral medicine26(4), 112–116

World Health Organization. (2021). Fact Sheets. Hepatitis B. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/hepatitis-b. Di akses pada tanggal 29 Agustus 2021 pukul 11.31 WIB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X
Selamat Datang di Chat Dokter Online
Selamat Datang di Chat Dokter Online