Kenali Penyakit : Henti Jantung

Apa Itu Penyakit Henti Jantung?

Cardiac arrest adalah di mana hilangnya fungsi jantung secara mendadak, bisa terjadi pada seseorang yang memang didiagnosa dengan penyakit jantung ataupun tidak. Waktu kejadiannya juga tidak bisa diperkirakan, terjadi dengan sangat cepat ketika gejala dan tanda muncul (American Hearth Assosiation). Dengan kata lain Cardiac arrest adalah hilangnya fungsi jantung secara mendadak untuk mempertahankan sirkulasi normal darah untuk memasok kebutuhan oksigen ke otak dan organ vital lainnya akibat kegagalan kontraksi jantung.

Penyebab Henti Jantung

Henti jantung biasanya disebabkan karena gangguan irama jantung (arrhythmia), tepatnya penyakit fibrilasi ventrikel. Penyakit fibrilasi ventrikel ini menyebabkan jantung hanya bergetar bukan berdenyut untuk memompa darah sehingga jantung berhenti. Penyakit henti jantung lebih berisiko terjadi pada orang-orang dengan riwayat penyakit terdahulu seperti:

  1. Penyakit jantung koroner
  2. Penyakit otot jantung seperti penebalan otot jantung (Cardiomyopathy)
  3. Gangguan katup jantung
  4. Pembuluh darah yang tidak normal
  5. Penyakit jantung bawaan

Selain menderita penyakit jantung, seseorang juga berisiko terkena henti jantung jika:

  1. Pria dengan usia 45 tahun atau wanita dengan usia 55 tahun
  2. Jarang berolahraga
  3. Merokok
  4. Obesitas
  5. Penyakit gagal ginjal kronik

Tanda dan Gejala Henti Jantung

Terkadang penderita henti jantung tidak merasakan gejala sampai terjadi cardiac arrest. Tanda yang paling pertama seseorang terkena henti jantung adalah hilangnya kesadaran dan tidak terasa detak jantung dan nadi (arteri karotis, femoralis, radialis). Gejala lain yang dapat menjadi indikasi terjadinya henti jantung adalah detak jantung yang meningkat, pusing, atau kepala terasa ringan sebelum pingsan. Beberapa orang juga akan merasakan nyeri dada, sesak, dan muntah satu jam sebelum terjadi henti jantung.

Pertolongan Pertama Henti Jantung

Ketika menemukan seseorang dengan keadaan tidak sadarkan diri, segera periksa gerakan dada dan nadi di leher (arteri karotis). Apabila tidak ada gerakan dada dan nadi tidak berdenyut segera lakukan tindakan CPR dan panggil petugas medis.

Apabila tidak bisa melakukan CPR, cari orang yang bisa melakukannya.

Setelah petugas medis sampai, apabila nadi dan jantung belum juga berdenyut, petugas medis akan melakukan CPR dan menggunakan alat kejut jantung.

Setelah jantung berdenyut kembali, penderita henti jantung akan dibawa ke ICU (Intensive care unit) untuk mendapatkan pertolongan lebih lanjut oleh dokter di rumah sakit.

Referensi

Patel, Kevin, Hipskind, E. John 2021, Cardiac arrest, NCBI, diakses pada 29 Agustus 2021, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK534866/.

Digital Library Universitas Muhammadiyah Semarang, diakses pada 29 Agustus 2021, http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/116/jtptunimus-gdl-santosotri-5766-2-babii.pdf.

Granoff DM, McDaniel DB, Borkowf SP. Cardiorespiratory Arrest. Am J Dis Child. 1971;122(2):170–171. doi:10.1001/archpedi.1971.02110020104017

Repository Politeknik Kesehatan Denpasar, diakses pada 28 Agustus 2021, http://repository.poltekkes-denpasar.ac.id/1302/3/skripsi%20BAB%20II.pdf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X
Selamat Datang di Chat Dokter Online
Selamat Datang di Chat Dokter Online