Kenali Penyakit: Exanthematous Drug Eruption

Pernahkah badan kalian tiba-tiba muncul bercak merah? Tiba-tiba merasa gatal dan bentol-bentol? Lalu, setelah diingat-ingat, kalian habis mengonsumsi obat-obatan tertentu. Jika kalian pernah mengalami hal tersebut, bisa saja itu merupakan kondisi yang disebut Exanthematous Drug Eruption. Disebut juga dengan morbilliform atau erupsi obat maculopapular, Exanthematous drug eruption merupakan bentuk dari erupsi obat yang paling sering dijumpai. Kondisi ini terjadi akibat dari reaksi alergik terhadap obat-obatan tertentu. Dalam kasus exanthematous drug eruption, reaksi masuk ke kategori reaksi hipersensitivitas tipe IV, yakni tipe lambat. Reaksi ini diperantarai oleh sel limfosit T spesifik obat. Walaupun disebutkan kalau kategori reaksinya merupakan hipersensitivitas tipe IV, mekanisme dari kondisi ini masih belum diketahui secara jelas. Bahkan, kemungkinan kondisi ini melibatkan lebih dari 1 mekanisme, yakni mekanisme reaksi hipersensitivitas tipe III (reaksi komplek imun) dan tipe IV (tipe lambat).

Seperti namanya, exanthematous drug eruption berkaitan dengan penggunaan obat tertentu. Beberapa obat yang penggunaannya dipercaya berkaitan dengan kondisi tersebut ialah:

  1. Antikonvulsan
  2. Ampisilin
  3. NSAID
  4. Sulfonamid
  5. Allopurinol
  6. Tetrasiklin
  7. Eritromisis
  8. Fenobarbital
  9. Retinoid

Dan dari sekian obat yang berkaitan dengan exanthematous drug eruption, penyebab utamanya ialah antibiotic β laktam dan anti epilepsi. Walaupun begitu, tidak semua kasus dari exanthematous drug eruption berasal dari reaksi kita terhadap obat. Beberapa infeksi yang disebabkan oleh virus dapat menyebabkan kondisi serupa yang sulit dibedakan dengan kasus erupsi obat ini.

            Exanthematous drug eruption dapat timbul di tubuh kita dalam waktu yang beragam, bisa beberapa hari setelah mengonsumsi obat, hingga 2-3 minggu setelah mengonsumsi obat. Kondisi yang muncul di tubuh dapat berupa ruam merah atau bentol-bentol ynag tersebar di wajah, tubuh, hingga telapak tangan dan kaki. Dan kondisi ini juga dapat diikuti dengan munculnya demam, bengkak pada wajah atau kelopak mata, gatal-gatal, sakit tenggorokan, konjungtivitis, hingga nyeri sendi. Exanthematous drug eruption ini dapat ditangani dengan pemberian terapi umum maupun khusus. Pada terapi umum, kita harus mengidentifikasi oab penyebab dan menghentikan penggunaannya. Selanjutnya, terdapat terapi khusus berupa pemberian obat minum, seperti antihistamin chlorpheniramine maleat 4 mg setiap malam dan deksametason 3 mg setiap 8 jam, serta pemberian obat luar seperti topical bethametasone dipropionate 0,05%.

DAFTAR PUSTAKA

Rahmanisa, S., Suarsyaf, H. Z. (2017). Exanthematous Drug Eruption pada Pria Usia 45 Tahun. Jurnal AgromedUnila, Vol. 4 No. 1, hal. 33-36

Halim, A. (2016). Erupsi Obat. Temu Ilmiah Siang Klinik Rumah Sakit Umum Universitas Kristen Indonesia

Putra, I. B. (2008). Erupsi Obat Alergik. USU e-Repository, 2008

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X
Selamat Datang di Chat Dokter Online
Selamat Datang di Chat Dokter Online