Kenali Penyakit: Esofagitis Refluks

Esofagitis refluks merupakan kondisi dimana isi lambung naik kembali ke kerongkongan atau bahkan hingga ke organ lainnya seperti rongga mulut, laring, atau paru-paru. Refluks esofagus dianggap sebagai penyakit paling umum yang dihadapi oleh ahli gastroenterologi dan penyedia perawatan primer. Ini berkontribusi pada sebagian besar kasus yang dirawat oleh penyedia perawatan primer. Di negara-negara Barat, prevalensi penyakit ini sekitar 10% sampai 20%, dan kondisi yang parah terdapat pada 6% dari populasi; di negara-negara Asia, prevalensinya sekitar 5%. Faktor risiko dari penyakit ini meliputi usia di atas 50 tahun, indeks massa tubuh di atas 30, merokok, kecemasan, depresi, dan penurunan aktivitas fisik. Baru-baru ini hasil penelitian juga menyatakan non-alcoholic fatty liver disease (NAFLD) dapat meningkatkan risiko berkembangnya esofagitis refluks.

Mekanisme fisiologis yang mengatur fungsi esofagus dan meminimalkan refluks esofagus melibatkan fungsi epiglotis. Katup kompleks di persimpangan esofagogastrik menentang tekanan positif perut dan tekanan dada negatif dan bertindak bersama-sama untuk mencegah refluks isi asam lambung ke kerongkongan. Kelainan pada fungsi inilah yang menyebabkan gejala esofagitis refluks. Esofagitis refluks dapat berupa kelainan sfingter esofagus bagian bawah dan dapat diklasifikasikan berdasarkan adanya gejala tanpa erosi pada pemeriksaan endoskopi (non-erosive disease/NERD) atau gejala dengan erosi esofagus (erosive reflux disease/ERD). Penyakit ini lebih sering terjadi pada pria, tetapi apabila terjadi pada wanita kemungkinan besar merupakan NERD.

Gejala khas esofagitis refluks ialah mulas dan regurgitasi asam. Mulas adalah sensasi terbakar yang dirasakan di belakang tulang dada dalam waktu 60 menit setelah makan. Gejala ini dipicu oleh olahraga dan berbaring telentang setelah makan. Rasa sakit biasanya dimulai di epigastrium dan menyebar ke leher. Namun, pada beberapa pasien dengan esofagitis parah atau kerusakan pada bagian bawah esofagus (esofagus Barrett) acapkali tidak disertai gejala mual. Gejala lainnya adalah regurgitasi asam di mana pasien merasakan sensasi terbakar di tenggorokan dan terasa asam serta pahit di bagian belakang mulut akibat asam lambung yang naik. Gerakan yang cepat meningkatkan tekanan intra-abdomen dan membungkuk ke depan bisa memicu regurgitasi asam lambung.

Refluks isi lambung ke kerongkongan dapat terjadi pada individu sehat, tetapi intensitas refluks dinormalisir oleh gerakan peristaltik esofagus dan netralisasi residu asam oleh air liur yang ditelan. Penyebab refluks esofagitis dapat disebabkan oleh kelainan sebagai berikut:

  1. Relaksasi sementara sfingter esofagus bagian bawah atau tekanan sfingter esofagus bagian bawah saat istirahat yang rendah
  2. Adanya hernia hiatus
  3. Peningkatan lemak intra-abdomen seperti halnya pada obesitas, dan peningkatan tekanan intra-abdomen seperti pada kehamilan dan pasien dengan asites
  4. Gangguan mekanisme pertahanan normal termasuk peristaltik esofagus (disregulasi peristaltik esofagus)
  5. Gangguan produksi air liur karena beberapa penyebab, termasuk peradangan kronis pada kelenjar ludah
  6. Kerusakan mekanisme pertahanan mural esofagus

Diagnosis dari esofagitis refluks biasanya ditegakkan berdasarkan kombinasi gejala yang ada, pengujian objektif dengan endoskopi, pemantauan refluks rawat jalan, dan respons terhadap terapi proton pump inhibitor (PPI). Berdasarkan gambaran klinis, terutama ketika pasien menunjukkan gejala yang khas, pemeriksaan penunjang tidak diperlukan pada pasien ini. Pemeriksaan penunjang biasanya direkomendasikan pada pasien dengan gejala atipikal dan pasien yang mengalami komplikasi.

Refluks esofagus dapat menyebabkan beberapa komplikasi, termasuk esofagitis, perdarahan saluran cerna bagian atas, anemia, tukak lambung, striktur peptik, disfagia, kanker kardia lambung, dan esofagus Barrett. Refluks juga dapat menyebabkan komplikasi ekstra-gastrointestinal, seperti erosi gigi, radang tenggorokan, batuk, asma, sinusitis, dan fibrosis paru idiopatik. Refluks esofagitis juga sering terjadi selama kehamilan pada trimester manapun. Pada pasien ini, refluks dan mulas biasanya sembuh setelah melahirkan. Banyak pasien dengan esofagitis refluks sembuh dengan baik hanya dengan obat-obatan, tetapi kekambuhan dapat terjadi setelah perawatan medis dihentikan dan menunjukkan perlunya terapi pemeliharaan jangka panjang.

Daftar Pustaka

Beaumont H, Bennink RJ, de Jong J, Boeckxstaens GE. The position of the acid pocket as a major risk factor for acidic reflux in healthy subjects and patients with GORD. Gut. 2010 Apr;59(4):441-51.

Boeckxstaens GE, Rohof WO. Pathophysiology of gastroesophageal reflux disease. Gastroenterol Clin North Am. 2014 Mar;43(1):15-25.

Boeckxstaens GE. Alterations confined to the gastro-oesophageal junction: the relationship between low LOSP, TLOSRs, hiatus hernia and acid pocket. Best Pract Res Clin Gastroenterol. 2010 Dec;24(6):821-9.

Boeckxstaens GE. The lower oesophageal sphincter. Neurogastroenterol Motil. 2005 Jun;17 Suppl 1:13-21.

Kellerman R, Kintanar T. Gastroesophageal Reflux Disease. Prim Care. 2017 Dec;44(4):561-573.

Rubenstein JH, Chen JW. Epidemiology of gastroesophageal reflux disease. Gastroenterol Clin North Am. 2014 Mar;43(1):1-14.

Yang HJ, Chang Y, Park SK, Jung YS, Park JH, Park DI, Cho YK, Ryu S, Sohn CI. Nonalcoholic Fatty Liver Disease Is Associated with Increased Risk of Reflux Esophagitis. Dig Dis Sci. 2017 Dec;62(12):3605-3613.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X
Selamat Datang di Chat Dokter Online
Selamat Datang di Chat Dokter Online