Kenali Penyakit: Dermatitis Numularis

Pendahuluan

         Dermatitis numularis merupakan penyakit  kulit kronis disertai munculnya ruam atau bercak lingkaran seperti koin (oval) dan timbul setelah terjadi kerusakan pada kulit seperti luka gesekan,gigitan serangga,dan luka bakar. Umumnya mengenai kaki, tangan,badan dan dapat terjadi dibagian tubuh manapun. Penyakit ini tidak menular, tapi menggangu dan dapat berlangusng selama beberapa minggu,bulan,tahun dan dapat muncul kembali.

         Perbadingan laki-laki lebih besar dibandingkan perempuan terkena penyakit ini, serta perbadingan usia dewasa lebih besar daripada anak-anak. Pada pria umunya pada usia 55-65 tahun serta dapat ditemukan pada usia yang lebih muda yaitu pada wanita berusia 15-25 tahun.

Gejala

         Gejala penyakit ini diawali dengan  bintik kecil kemerahan, lalu bergabung menjadi lingkaran berbetuk oval seperti koin dengan ukuran 2-10 cm, disebut bercak. Bercak lalu membengkak,melepuh lalu mengeluarkan cairan,terasa gatal dan seperti kebakar panas, umumnya dirasakan pada pada malam hari. Biasanya bercak yang ada lebih dari satu dan menyebar secara simetris namun ada juga yang hanya timbul satu bercak saja.

         Daerah yang terkena bisa dimana saja , namun umumnya pada kaki,tangan,lengan,dan telapak, serta daerah yang jarang yaitu pada kulit kepala dan wajah. Jika penyakit ini dibiarkan tanpa adanya penanganan, maka akan terjadi infeksi bakteri yang di tandai dengan bercak kekuningan dan mengeluarkan banyak cairan,kulit area bercak radang, dan tubuh meriang.

Penyebab , Faktor Resiko dan Komplikasi

         Penyebab pasti dari dermatitis numularis belum diketahui secara jelas. Meski begitu, sebagian besar kasus dermatitis numularis dinilai terjadi akibat kondisi kulit penderita sangat kering , perubahan suhu, sensitif terhadap zat , seperti : logam,formaldehida atau formalin,dan obat-obatan (neomycin).

         Faktor risiko yang dapat  membuat seseorang lebih rentan terkena dermatitis numularis yaitu pria berusia diatas 50 tahun,kulit sangat kering , daerah beriklim kering atau dingin, perubahan suhu drastis, kulit sensitif yang mudah iritasi, infeksi bakteri ( Staphylococcus aureus), riwayat alergi dan asma, riwayat eksim jenis lain, gangguan peredaran darah, cedera ringan pada kulit ( tergigit serangga, terkena benda tajam, dan terbakar), komsumsi obat-obatan tertentu, serta stress.

          Berikut beberapa komplikasi yang dapat terjadi akibat dermatitis numularis adalah warna kulit permanen / menetap pada area dermatitis, sulit konsentrasi dan sulit tidur, infeksi bakteri serta selulitis.

Pengobatan dan Pemeriksaan Penunjang

         Pengobatan dilakukan untuk meringankan gejala serta menjaga gejala tetap terkontrol. Pengobatan yang dapat dilakukan, yaitu pemberian  (1) kortikosteroid ; obat paling umum untuk meredakan peradangan dan mengurangi iritasi kulit. (2) Antihistamin (obat gatal alergi) ; contohnya cetirizine, untuk meredakan rasa tidak nyaman atau reaksi alergi pada kulit. (3) Antibiotik ; contohnya eritromisin,methotrexate, azathioprine, dan ciclosporin. (4) Terapi radiasi ultraviolet (UV); pada kasus dermatitis numularis cukup parah dan pemberian obat-obatan tidak menunjukkan hasil signifikan .

         Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan yaitu biopsi kulit, tes alergi tempel ( patch testing) dan kerokan kulit,

Pencegahan

         Pencegahan deratitis numularis dapat dilakukan dengan mengurangi gejala dan mempercepat pengobatan.Dimulai dengan menggunakan pakaian menyerap keringat serta longgar (katun), hindari menggesek dan menggaruk kulit, mandi tidak terlalu lama dan  tidak menggunakan air panas / hangat, rajin menggunakan pelembab, menjaga kesehatan gigi, hindari stress, mengatur pola hidup sehat ,memakai sabun yang pH netral ( melembabkan dan tidak ada detergen),menggunakan sarung tangan ketika kontak pada zat yang menyebakan iritasi, dan gunakan pelembab udara ruangan .

Daftar Pustaka

Bonamonte, et al. (2019). Nummular Contact Eczema: Presentation of a Pediatric Case. The Open Dermatology Journal. 13, pp. 23-26.

Johnson, et al. (2019). Treatment-resistant Atopic Dermatitis: Challenges and Solutions. Clinical, Cosmetic, and Investigational Dermatology. 12, pp. 181-192.

Tanaka, T., Satoh, T., & Yokozeki, H. (2009). Dental infection associated with nummular eczema as an overlooked focal infection. J Dermatol 36(8), 462–465.

Nummular Dermatitis (Nummular Eczema) Treatment & Management

Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit Dan Kelamin Indonesia ( 2017)

Siti Aminah Tri Susila Estri. 2009.Penyebab dan Rekurensi Dermatitis Numularis. Vol. 9 No. 2: 129 – 135.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X
Selamat Datang di Chat Dokter Online
Selamat Datang di Chat Dokter Online