Kenali Penyakit: Demam Reumatik

Demam rematik merupakan penyakit autoimun yang disebabkan oleh infeksi bakteri streptokokus beta hemolitikus A pada tenggorokan. Demam reumatik biasanya menyerang pada anak dan remaja (5 sampai 15 tahun). Bakteri streptokokus akan menyerang sel dalam tenggorokan sehingga terjadinya peradangan akut dan sering menyebabkan gejala yaitu radang tenggorokan, dan gejala lain termasuk infeksi kulit (impetigo, selulitis), radang otot (miositis), dan gangguan saluran pernafasan (pneumonia) (Dewi & Pamela, 2019).

Kejadian demam reumatik sering dikaitkan dengan penyakit jantung reumatik kronik, hal ini disebabkan karena sekitar 60% pasien mengalami cacat jantung akibat dari demam reumatik. Perjalanan penyakit dapat semakin parah apabila pasien mengalami kondisi cacat jantung dan pada pasien anak-anak (Szczygielska et al, 2018).

Demam reumatik dapat meningkatkan resiko pembengkakan dan nyeri sendi, kegagalan jantung dalam memompa darah akibat regurgitasi katup jantung, dan infeksi kulit. Berdasarkan kriteria The Jones 2015 dalam Carapetis et al (2016), penegakan diagnosa dari demam reumatik dapat ditentukan melalui kriteria sebagai berikut.

 
Secara umum, gejala klinis utama pada episode pertama  demam reumatik akut yaitu sekitar 50-70% menyebabkan karditis dan 35-66% menyebabkan artritis. Karditis(radang pada jantung), merupakan salah satu kriteria mayor dari demam reumatik akut, dapat didiagnosis secara klinis dengan ditemukannya suara abnormal (murmur) pada pemeriksaan auskultasi dan menunjukkan regurgitasi mitral (sistolik murmur) atau regurgitasi aorta (murmur diastolik). Demam reumatk terkait gejala arthritis adalah ditemukannya  poliartritis yang sering menyerang beberapa persendian. Gejala demam reumatik lainnya termasuk chorea (infeksi kulit) yang umumnya menyerang wanita, benjolan di bawah kulit dan eritema marginatum (kemerahan pada kulit) (Ismail et al, 2019).
 
Pemeriksaan penunjang yang dapat direkomendasikan untuk menegakkan diagnosa demam reumatik yaitu pemeriksaan ekokardiografi yang dikombinasikan dengan doppler. Pemeriksaan ekokardiografi dan doppler bertujuan untuk melihat kondisi dan kelainan pada katup jantung. Pemeriksaan penunjang lainnya yaitu dapat melalui pemeriksaan laboratorium untuk melihat peningkatan dari profil laju endap darah dan protein CRP yang merupakan penanda dari adanya demam reumatik (Ismail et al, 2019).
 
Pengobatan untuk penyakit demam rematik dapat diberikan terapi anti-streptokokus, terapi anti-inflamasi, dan terapi anti-konvulsi. Terapi anti-streptokokus dibagi menjadi terapi primer dan sekunder. Pemberian terapi primer berfungsi untuk menyerang bakteri streptokokus, sedangkan pengobatan sekunder berfungsi untuk mencegah terjadinya demam rematik kembali dengan pemberian pengobatan jangka panjang. Obat yang biasa diberikan pada terapi anti-streptokokus primer yakni phenoxymethylpenicillin, amoxicillin, benzathine penicillin G. Jika pasien menderita alergi terhadap golongan obat penicillin, maka dapat diberikan obat golongan sefalosporin seperti sefaleksin dan sefadroksil. Golongan makrolida (eritromisin, azitromisin, klaritromisin) juga dapat diberikan, jika pasien alergi terhadap golongan beta laktam (Dewi & Pamela, 2019).
 
Terapi anti-inflamasi yang dapat diberikan yakni golongan NSAID (Non Steroid Antiinflamasi Drug) yang dapat mengurangi gejala peradangan dan nyeri. Beberapa obat tersebut diantaranya ibuprofen, naproxen, asam asetil salisilat, paracetamol, dan prednisolon. Untuk terapi anti-konvulsi hanya dipergunakan jika gejala (chorea) berpotensi mengakibatkan kecacatan atau membuat stress. Obat anti-konvulsi tersebut diantaranya adalah asam valproat dan karbamazepin (Dewi & Pamela, 2019).
 
Dapat disimpulkan bahwa demam rematik merupakan penyakit autoimun yang disebabkan oleh infeksi bakteri streptokokus yang sering menyerang pada anak dan remaja (5 sampai 15 tahun). Kejadian demam reumatik sering dikaitkan dengan penyakit jantung reumatik kronik, karena sebagian besar pasien akan mengalami cacat jantung akibat dari demam reumatik. Demam reumatik dapat meningkatkan resiko pembengkakan dan nyeri sendi, kegagalan jantung dalam memompa darah akibat regurgitasi katup jantung, dan infeksi kulit. Sehingga penanganan yang tepat melalui diagnosa dan terapi pengobatan harus segera dilakukan untuk meminimalisir resiko yang fatal akibat dari demam reumatik. 
 
 

Referensi:

Carapetis, J. R., Beaton, A., Cunningham, M. W., Guilherme, L., Karthikeyan, G., Mayosi, B. M., Sable, C., Steer, A., Wilson, N., Wyber, R., Zühlke, L. 2016. Acute Rheumatic Fever and Rheumatic Heart Disease. Macmillan Publishers Limited, 2: 1-24. doi:10.1038/nrdp.2015.84

Dewi, F & Pamela. 2019. Diagnosis Demam Rematik pada Anak: Update. CDK-280. 46(11): 687-690.

Ismail, P., Sobur, C. S., Olyvia, C. 2019. Recurrent Rheumatic Fever. Indonesian Journal of Rheumatology. 11(2): 162-176.  DOI: https://doi.org/10.37275/IJR.v11i2.103

Szczygielska, I., Hernik, E., Kołodziejczyk, B., Gazda, A., Maślińska, M., Gietka, P. 2018. Rheumatic Fever – New Diagnostic Criteria.  Reumatologia. 56(1): 37–41. DOI: https://doi.org/10.5114/reum.2018.74748

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X
Selamat Datang di Chat Dokter Online
Selamat Datang di Chat Dokter Online