Kenali Penyakit: Atasi Gerd Dengan Menjaga Pola Hidup

Pernahkah anda mendengar mengenai GERD? GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) adalah penyakit pada sistem pencernaan yang diakibatkan oleh naiknya cairan asam lambung ke kerongkongan dan menyebabkan gejala yang mengganggu. GERD ini disebabkan oleh adanya disfungsi cincin otot di esofagus bagian bawah atau disebut dengan sfingter esofagus bagian bawah (LES) sehingga terjadi gangguan pada katup penghubung antara lambung dan kerongkongan.

Normalnya, katup tersebut akan terbuka untuk memungkinkan makanan serta minuman masuk menuju lambung dan dicerna. Setelah makanan atau minuman masuk ke lambung, katup ini akan tertutup kencang guna mencegah isi lambung kembali naik ke kerongkongan. Namun, pada kasus GERD terjadi gangguan pada katup karena adanya disfungsi cincin otot di esofagus bagian bawah, sehingga katup tidak dapat menutup secara sempurna, yang mengakibatkan cairan asam lambung dapat naik lagi ke kerongkongan.

Faktor risiko yang dapat memicu GERD ialah sebagai berikut, obesitas, usia diatas 50 tahun, gaya hidup yang tidak sehat seperti kebiasaan mengonsumsi makanan yang berlemak dan pedas, merokok dan mengonsumsi alkohol, mengonsumsi kafein secara berlebihan, mengonsumsi obat pereda nyeri, dan ada riwayat keluarga yang juga mengalami GERD.

Jumlah kasus GERD menurut Map of Digestive Disorders & Diseases tahun 2008 di Amerika Serikat, United Kingdom, Australia, Cina, Jepang, Malaysia, dan Singapura adalah 15%, 21%, 10,4%, 7,28%, 6,60%, 38,8%, dan 1,6%. Sedangkan, jumlah kasus GERD di Indonesia berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, Sp.PD-KGEH, MMB, FINASIM, FACP dan rekan-rekannya, disebutkan mencapai 27,4%.

Adapun, tanda dan gejala khas GERD adalah rasa asam dan pahit di lidah karena adanya refluks yang terjadi sesaat setelah makan dan rasa terbakar di daerah ulu hati yang terasa hingga ke daerah dada. Kedua gejala tersebut umumnya dirasakan saat setelah makan atau saat berbaring. Selain kedua gejala yang khas tadi, GERD juga dapat dikenali dengan beberapa gejala, berikut ini:

  • Rasa pahit pada mulut
  • Nyeri atau rasa seperti terbakar di ulu hati yang terasa hingga ke daerah dada
  • Sulit menelan
  • Mual dan muntah
  • Bau mulut
  • Kerusakan pada gigu
  • Suara serak dan sakit tenggorokan

Pada kondisi yang parah GERD dapat memicu kanker kerongkongan, radang pita suara, dan pneumonia.

Adapun, apabila telah mengalami tanda dan gejala GERD seperti diatas harus segera diberikan tatalaksana pengobatan. Tatalaksana dapat dilakukan bisa dengan 2 cara yakni non obat dan obat. Pertama, tata laksana non obat pada pasien GERD ialah dengan menjaga “POLA HIDUP”, antara lain:

  • Porsi makan yang sesuai dan hindari konsumsi makanan yang pedas, asam, dan berlemak, serta hindari minum kopi, alkohol atau minuman bersoda yang akan memperburuk timbulnya GERD tersebut.
  • Lakukan olahraga secara rutin
  • Hindari tidur dalam waktu 2 jam setelah makan. Langsung tidur setelah makan akan memudahkan isi lambung termasuk asam lambung akan berbalik arah kembali ke kerongkongan.
  • Diet untuk mengontrol berat badan sampai mencapai berat badan ideal
  • Usahakan gaya hidup yang teratur dengan istirahat yang cukup dan hindari stress
  • Penuhi asupat nutrisi dan zat gizi

Kedua, tata laksana obat yang dikonsumsi sesuai petunjuk dokter. Pada tatalaksana obat akan diberikan obat-obat yang memproduksi asam lambung atau dikenal sebagai anti sekresi asam lambung. Obat-obat kelompok ini terdiri dari 2 kelompok obat yaitu penghambat reseptor H2 (antagonist H2 reseptor) antara lain ranitidin, famotidin, nizatidin atau simetidin. Kelompok kedua yang termasuk obat anti asam yang kuat yaitu penghambat pompa proton seperti omeprazol,lansoprazol, rabeprazol,esomeprazol atau pantoprazol. Dan juga, antasida obat penetral asam yang banyak dijual bebas digunakan untuk mengurangi gejala akibat GERD tersebut.

Daftar Pustaka:

Bostame, S. et al. 2017. Gastroesophageal reflux disease (GERD) Pediatric Surgery Handbook for Residents and Medical Students. pp. 137–146. doi: https://doi.org/10.1097/mcg.0b013e31815ea27b

Saputera, M. D. and Budianto, W. 2017. Diagnosis dan tatalaksana gastroesophageal reflux disease (GERD) di pusat pelayanan kesehatan primer. Journal Continuing Medical Education, 44(5), pp. 329–332.

Sudoyo AW, Setyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiadi S, editors. 2007. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi IV. Jakarta: Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X
Selamat Datang di Chat Dokter Online
Selamat Datang di Chat Dokter Online