Kenali Penyakit: Artritis Reumatoid

Artritis reumatoid merupakan penyakit yang biasa terjadi dan termasuk ke dalam penyakit autoimun. Autoimun merupakan kondisi di mana sistem pertahanan tubuh yang harusnya membentuk kekebalan tubuh dan mempertahankan tubuh dari benda asing malah menyerang tubuhnya sendiri yang menyebabkan peradangan pada tubuh. Artritis reumatoid ini dapat ditandai dengan rasa nyeri, kaku, maupun timbul pembengkakan pada sendi. Artritis reumatoid ini utamanya menyerang banyak sendi sekaligus pada sendi yang terdapat di lutut, tangan, dan pergelangan tangan. Sendi yang mengalami artritis reumatoid akan meradang yang menyebabkan rusaknya jaringan sendi. Rusaknya jaringan sendi ini mengakibatkan rasa nyeri yang kronik (jangka panjang), kurangnya keseimbangan tubuh, dan deformitas atau cacat. Artritis reumatoid ini juga dapat mempengaruhi jaringan lain di tubuh dan membuat masalah di organ tubuh lainnya seperti paru-paru, jantung, dan mata.

Sebenarnya, apa yang menyebabkan artritis reumatoid? Jadi, artritis reumatoid merupakan respon imun tubuh yang tidak semestinya. Mengapa demikian, karena alih-alih menjaga tubuh, imun tubuh ini justru menyerang sel-sel yang sehat. Penyebab khusus dari artritis reumatoid ini belum diketahui secara pasti, namun terdapat beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya artritis reumatoid ini.

Adapun faktor risikonya antara lain sebagai berikut. Pertama adalah usia. Artritis reumatoid dapat terjadi kapanpun dan usia berapapun, namun risiko terjadinya artritis reumatoid dapat meningkat kemungkinannya seiring usia yang bertambah. Biasanya kemungkinan artritis reumatoid tertinggi terjadi di orang lanjut usia mulai dari usia 60 tahun. Kemudian ada faktor jenis kelamin. Berdasarkan penelitian kasus terbaru, kemungkinan terjadinya artritis reumatoid pada wanita 2-3 kali  lebih tinggi daripada pria. Lalu ada juga faktor genetik atau keturunan. Orang yang terlahir dengan gen spesifik dapat berkemungkinan mengalami artritis reumatoid. Gen ini bernama HLA atau disebut juga human leukocyte antigen genotip kelas 2 yang dapat memperparah gejala artritis reumatoid. Risiko terkena artritis reumatoid bagi orang yang terlahir dengan gen ini masih dapat meningkat karena faktor paparan lingkungan seperti merokok atau obesitas karena gaya hidup. Berbagai penelitian menyebutkan bahwa merokok dapt meningkatkan risiko seseorang untuk mengidap artritis reumatoid dan dapat memperparah kondisi. Selain genetik, riwayat kelahiran juga merupakan faktor risiko artritis reumatoid. Wanita yang belum pernah melahirkan berisiko lebih tinggi mengidap artritis reumatoid. Ada pula faktor risiko parparan kehidupan awal. Faktor risiko ini dapat menyebabkan peningkatan risiko artritis reumatoid ketika dewasa nanti. Misalnya sebagai contoh, anak yang ibunya merupakan seorang perokok mempunyai tingkar risiko 2 kali lipat terkena artritis reumatoid ketika dewasa nanti jika dibandingkan dengan anak lainnya. Lalu, faktor risiko terakhir adalah obesitas. Orang yang mengalami obesitas dapat meningkatkan risiko terjadinya artritis reumatoid. Semakin tinggi tingkat kelebihan berat badannya, semakin tinggi pula risikonya. Selain faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya artritis reumatoid, terdapat juga faktor yang dapat menurunkan kemungkinan terjadinya artritis reumatoid yakni menyusui. Wanita yang sedang atau pernah menyusui anaknya memiliki penurunan risiko terjadinya artritis reumatoid.

Ketika mengalami artritis reumatoid, terdapat waktu di mana gejala semakin memburuk yang disebut sebagai flares dan waktu di mana gejala membaik disebut remisi. Tanda dan gejala dari artritis reumatoid seperti nyeri atau sakit di lebih dari satu sendi, kekakuan yang terjadi pada lebih dari satu sendi, nyeri dan bengkak di lebih dari satu sendi, gejala simetris di kedua sisi tubuh seperti kedua tangan maupun kedua tungkai, turunnya berat badan, demam, lelah dan letih serta lemah.

Komplikasinya yakni orang yang mengalami artritis reumatoid berisiko lebih tinggi untuk mengidap penyakit kronis seperti penyakit jantung prematur dan diabetes, terlebih pada orang yang mengalami obesitas sekaligus artritis reumatoid karena harus mewaspadai risiko penyakit jantung seperti tekanan darah tinggi dan kolesterol tinggi. Selain penyakit-penyakit tersebut, artritis reumatoid juga mempersulit kegiatan sehari-hari sehingga mengganggu pekerjaan. Tidak sedikit penderita artritis reumatoid yang kehilangan pekerjaan karena keterbatasan pergerakan, terlebih pada pekerjaan yang menuntut fisik dan juga kecepatan pekerjaan.

Upaya dalam mengurangi dampak artritis reumatoid yang lebih parah adalah melakukan pemeriksaan ke dokter sebelum terlambat. Pemeriksaan yang dilakukan yakni pemeriksaan fisik, sinar-X dan juga tes laboratorium. Waktu yang terbaik untuk mendiagnosis artritis reumatoid yakni 6 bulan setelah munculnya gejala-gejala yang mengarah kepada artritis reumatoid yang telah dijelaskan di atas tadi. Hal ini dilakukan supaya pengobatan dapat dilakukan demi menghambat dan menghentikan perkembangan penyakit, mengendalikan peradangan, dan mencegah efek bahaya yang dapat menimbulkan komplikasi dari artritis reumatoid.

Terdapat beberapa cara untuk mencegah terjadinya artritis reumatoid, antara lain harus bergerak aktif. Aktivitas fisik harus dilakukan setidaknya 2.5 jam atau 150 menit per minggu. Apabila Anda adalah seseorang yang kesehariannya kurang melakukan aktivitas fisik, Anda dapat mencoba berjalan, berenang, ataupun bersepeda selama 30 menit sehari dan 5 kali seminggu. Aktivitas 30 menit tersebut dapat dibagi menjadi 3 sesi, dengan 10 menit per-sesinya. Selain beraktivitas fisik yang cukup, berat badan juga harus dijaga. Berat badan yang baik adalah berat badan yang ideal. Berat badan harus dijaga karena jika terjadi obesitas, komplikasi yang disebabkan artritis reumatoid akan lebih parah lagi dampaknya. Selain untuk menurunkan risiko artritis reumatoid, hal ini juga dapat menurunkan risiko penyakit kronis lainnya seperti penyakit jantung dan juga diabetes. Inilah yang menyebabkan pentingnya menjaga berat badan. Lalu yang terakhir adalah berhenti merokok. Sama halnya seperti menjaga berat badan, berhenti merokok juga dapat menurunkan risiko terjadinya artritis reumatoid dan juga komplikasinya. Selain itu, berhenti merokok membuat tubuh menjadi lebih aktif secara fisik sehingga baik bagi tubuh.

Sumber :

Smolen JS, Aletaha D, McInnes IB.Rheumatoid arthritis. Lancet 2016; 388(10055): 2023-2038. [PubMed]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X
Selamat Datang di Chat Dokter Online
Selamat Datang di Chat Dokter Online