Kenali Penyakit: Anemia Hemolitik

Tahukah kamu bahwa jumlah penderita anemia terhitung tahun 2018 telah mencapai hingga 2,3 miliar dari 7,592 miliar penduduk. Setiap tahunnya angka ini terus bertambah, WHO memperkirakan bahwa 42% dari anak balita dan 40% ibu hamil di seluruh dunia terkena penyakit anemia. Anemia merupakan kondisi dimana terjadinya penurunan jumlah sel darah merah, kuantitas hemoglobin, atau volume sel darah merah dalam darah yang dibawah batas normal.

Terdapat berbagai jenis anemia, salah satunya anemia hemolitik. Anemia hemolitik terjadi karena adanya penurunan sel darah merah yang dapat terjadi sementara atau berkelanjutan. Normalnya, sel darah merah dapat hidup sekitar 120 hari, namun pada penderita anemia hemolitik penghancuran sel darah merahnya dapat terjadi secara lebih cepat. 

Penyebab terjadinya anemia hemolitik dapat dipengaruhi berbagai faktor, yaitu penyakit autoimun yang menyebabkan anemia hemolitik autoimun (AIHA), penyakit infeksi seperti hepatitis, tipes, kekurangan vitamin E,obat-obatan, dan berbagai penyakit lainnya. Anemia hemolitik juga dapat dipengaruhi oleh faktor keturunan seperti penyakit thalassemia, anemia sel sabit, dan penyakit keturunan lainnya.

Penderita dari anemia hemolitik akan menimbulkan beberapa tanda dan gejala seperti urin berwarna kecoklatan, nyeri perut, anemia akut, ikterus atau penyakit kuning, hematuria atau kencing berdarah, kelelahan, denyut jantung yang cepat, splenomegaly atau pembesaran limpa,  hipotensi atau tekanan darah rendah. Apabila penderita dicurigai mengalami anemia hemolitik, maka kita harus memeriksa riwayat diagnosis medis, obat-obatan yang dikonsumsi, riwayat anemia hemolitik pribadi ataupun keluarga, perlu dilakukan juga pemeriksaan fisik seperti adanya infeksi atau keganasan, dan pemeriksaan laboratorium berupa peningkatan kerapuhan sel darah merah, bilirubin, jumlah retikulasi, dan pemendekan masa hidup dari sel darah merah, serta melakukan tes coombs yaitu tes untuk mengetahui antibody yang menyerang sel darah merah.

Anemia hemolitik dapat dicegah dengan pola makan yang kaya akan nutrisi asam folat dan zat besi, konsumsi vitamin B12, makan buah yang mengandung vitamin C. Apabila kita mengalami anemia hemolitik karena faktor genetic, maka penyakit ini tidak dapat dicegah. Tetapi kita dapat melakukan konsultasi genetik sebelum merencanakan kehamilan. Untuk pengobatan, kita dapat melakukan transfusi darah, suntik immunoglobulin, mengonsumsi obat imunosupresan dan supleman asam folat serta zat besi.

Daftar Pustaka

Kellerman, Rick D. Rakel, David. (2020).  Conn’s Current Therapy 2021 : Hemolytic Anemia page 421-426. Copyright © 2021 by Elsevier, Inc. All rights reserved.

Phillips, J., & Henderson, A. (2018). Hemolytic Anemia: Evaluation and Differential. American Family Physician, 2018-09-15, Volume 98, Issue 6, Pages 354-361, Copyright © 2018 American Family Physician.

World Health Organization (WHO). Anemia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X
Selamat Datang di Chat Dokter Online
Selamat Datang di Chat Dokter Online