Kenali Penyakit: Amyotrophic lateral sclerosis (ALS)

Amyotrophic lateral sclerosis (ALS) atau juga sering disebut dengan penyakit Lou Gehrig adalah suatu kondisi dimana tubuh seseorang mengalami gangguan pada sistem sarafnya, hal ini menyebabkan otot-otot menjadi lemah dan akan berpengaruh ke fungsi fisik orang tersebut. Kondisi awal dari seseorang yang mengalami penyakit ini adalah nyeri. Banyak pasien ALS yang masih menganggap remeh dan mengabaikan gejala awal berupa nyeri ini. ALS dapat memengaruhi fungsi fisik seseorang, dengan cara menyebabkan paresis atau kondisi kemahnya gerak badan yang akan berpengaruh ke mobilitas, aktivitas sehari-hari, fungsi komunikasi, menelan, hingga pernafasan pasien.

Penyebab dari penyakit ALS ini belum dapat diketahui dengan pasti. Namun beberapa peniliti mengatakan ALS dapat terjadi akibat kelainan terkait dengan tumpang tindih genetik, pengamatan klinis dan penyakit. Adanya perubahan gen pada tubuh seseorang akan berakibat terhadap fungsi termasuk pengaturan dan aktivitas gen tersebut. Penelitian yang semakin maju juga mengatakan bahwa adanya cacat pada gen yang menyebabkan ALS ini juga terjadi pada pasien yang menderita demensia temporal depan (FTD) yaitu gangguan pada kepribadian, perilaku, dan kemampuan berbahasa. Hal ini menunjukan ikatan genetic antara kedua gangguan neurodegenaratif (kondisi hilangnya progresif struktur atau fungsi sel neuron).

Gejala dan tanda yang dialami seseorang yang menderita ALS dapat berupa nyeri. Dimana nyeri ini terjadi melalui mekanisme yang berbeda, seperti kram otot, tekanan yang abnormal pada sistem musculoskeletal/otot-otot yang mengalami kelemahan serta nyeri sendi akibat keterbatasan gerak pada articular (kartilago/tulang rawan). Nyeri yang menyerang pasien ALS ini sering terjadi di bagian leher, bahu, dan punggung bagian bawah. Dalam ini mengakibatkan pasien tersebut mengalami kesulitan untuk berganti posisi dalam waktu yang lama, hal ini juga akan berpengaruh ke tekanan tidak normal pada kulit, sehingga juga dapat menyebabkan luka pada kuit.

Nyeri pada pasien ALS ini dapat terjadi lebih dari satu lokasi dan tiap lokasi tidak memiliki ciri khas tertentu. Dalam hal ini tidak ada pengaruh dari usia, dan jenis kelamin terkait dengan ciri khas nyeri pada ALS. Kram menjadi penyebab utama nyeri pada beberapa pasien dan biasanya akan muncul pada fase awal dan intermediet dari penyakit ALS. Untuk spesifik waktu timbulnya kram ini utamanya terjadi pada malam hari dan akan diperburuk dengan cuaca yang dingin, atau akibat adanya penurunan sirkulasi yang disebabkan pasien terlalu lama tidak berganti posisi.

Kram ini akan hilang seiring berjalannya waktu dikarenakan pada fase stadium lanjut, sel-sel saraf akan kehilangan kemampuan untuk menstimulasi kontraksi otot sebagai penyebab terjadinya kram. Selain itu kekakuan otot juga sering menyerang pasien ALS, hingga menjalar pada anggota gerak yang mengalami kelemahan dan atrofi (pengecilan). Nyeri sendi dan nyeri otot terjadi pada pasien ALS stadium lanjut, seiring dengan perkembangan penyakit dan menurunnya pergerakan dari pasien ALS.

Pengobatan yang dapat dilakukan pada pasien ALS bisa dengan non-farmakologi dan farmakologi untuk nyeri. Terapi non-formakologi bisa dengan fisioterapi (tindakan untuk mengurangi keterbatasan fisik akibat cedera/penyakit), peregangan teratur, dan latihan Range of Motion (ROM) yaitu latihan untuk memperbaiki kemampuan menggerakan persendian secara normal. Terapi non-farmakologi dapat juga digabungkan dengan terapi farmakologi. Terapi farmakologi untuk kram otot dilakukan agar dapat mengurangi ketegangan otot. Terapi farmakologi spastisitas  yaitu dengan terapi anti spastisitas dengan tujuan untuk menurunkan tonus otot melalui mekanisme sistem saraf pusat. Direkomendasikan bakofen untuk terapi tahap pertama, sedangkan tinadizin, dantrolon, dan gabapentin untuk tahap terapi kedua.

Namun pendekatan sangat ketat perlu dilakukan untuk proses perlakuan pada nyeri yang tepat pada pasien ALS, karena nyeri yang dialami pasien dapat dengan gambaran yang berbeda-beda, seperti kram otot, spastisistas, dan nyeri muskolokeletas (otot). Hal ini juga bergantung dengan pengalaman dan kecenderungan pribadi. Oleh karena itu masih perlu penilitian lebih lanjut terkait dengan terapi nyeri pada ALS.

Berdasarkan hasil penelusuran pada bukti yang ada, didapatkan bahwa rekomendasi terapi pertama untuk nyeri akibat kram otot dapat digunakan obat levetirasetam, sedangkan obat baklofen merupakan terapi pertama untuk nyeri akibat spastisitas (kelainan saraf yang mengatur gerak tubuh), dan terapi pertama untuk nyeri sendi dan muskuloskeletal adalah obat asetaminofen atau obat golongan NSAID (Nonsteroidal Anti-infalmmatory Drugs).

Daftar Pustaka

Haerani. (2017). Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS) In George Costella Wolfe’s You Are Not You (Sociological Approach). English and Literature Journal, 4, 13-16.

Hidayati, I. D. (2020, Desember). Terapi Farmakologi Nyeri pada Amyotrophic Lateral Sclerosis. Jurnal Farmasi Klinik Indonesia, 9, 327-340.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X
Selamat Datang di Chat Dokter Online
Selamat Datang di Chat Dokter Online