Kenali Penyakit: Abses Diabetik

Abses sendiri ialah  radang jaringan tubuh yang memungkinkan timbulnya rongga tempat nanah mengumpul (KBBI). Para penderita diabetes mellitus sering kali menderita penyakit infeksius yang cukup serius. Hal ini terjadi karena pengaruh lingkungan hiperglikemik dan dapat meneyebabkan penurunan atau perusakan fungsi kekebalan tubuh. Hiperglikemik ialah suatu keadaan dimana kadar glukosa darah pada tubuh manusia melebihi kadar normal, kadar glukosa darah sesaat melebihi 200 mg/dL ataupun kadar glukosa darah pada orang yang melakukan puasa melebihi 126 mg/dL dapat dikatakan masuk pada kategori hiperglikemik. Kasus abses yang sering terjadi pada penderita diabetes berlokasi pada bagian kakinya. Penyebab utamanya ialah bakteri Staphylococcus aureus dan beta-hemolytic streptococci.

Adapun mekanisme terjadinya infeksi kaki diabetik. Infeksi ini dihasilkan selain dikarenakan keadaan hiperglemik tetapi juga didukung dengan interaksi antar beberapa faktor risiko seperti neuropatik (penyakit saraf), penyakit pada pembuluh darah perifer serta penurunan fungsi neutrofil. Penyakit saraf diabetik mempengaruhi keadaan hidrasi kulit, saraf otonom pada pengidap diabetes akan menurunkan kadar hidrasi pada kulit sehingga kulit menjadi kering dan pecah – pecah. Hal ini mendukung masuknya bakteri kedalam tubuh melalui kulit dengan mudah dan terjadinya peradangan antar campuran bakteri sehingga menyebabkan peradangan hingga penebalan dinding pembuluh darah. Hal tersebut dinamakan, aterosklerosis. Aterosklerosis merupakan salah satu bentuk penyakit pembuluh darah yang terjadi pada bagian kaki. Dengan penanganan yang kurang tepat, efisien serta cepat maka infeksi kaki akan semakin parah dan menyebabkan penurunan perlawanan imun tubuh atau kita dapat sebut sebagain penurunan fungsi neutrophil.

Penanganan awal yang harus dilakukan ialah mendiagnosa terlebih dahulu untuk memastikan bahwa infeksi tersebut merupakan infeksi luka kaki diabetik. Aktivitas diagnosa ini hanya dapat dilakukan oleh para ahli. Hal yang dilakukan berupa anamnesis guna mencari data – data riwayat medis serta melakukan pemeriksaan lebih lanjut dengan rinci. Pemeriksaan vascular bertujuan untuk memeriksa dan merasakan (palpasi) denyut nadi arteri tibialis posterior serta ada atau tidak adanya ketidaknyamanan otot alat gerak bagian bawah saat melakukan pergerakan. Bila denyut nadi terasa dan ketidaknyamanan otot tidak terasa maka dapat diduga kasus tersebut bukan infeksi luka kaki diabetik, namun sebaliknya bila nadi tidak terasa biasanya disebabkan oleh adanya edema (penumpukan nanah) dan menutupi arteri tibialis posterior dan adanya ketidaknyamanan otot maka dapat diduga kasus tersebut merupakan infeksi luka kaki diabetik. Kemudian dilakukan pemeriksaan neurologis dengan alat garpu tala 128-Hz untuk mencari tahu ada tidaknya getaran yang dirasakan pada bagian alat gerak bawah. Pemeriksaan ukuran dan kedalaman luka serta mengevaluasi infeksi yang telah terjadi.

Pencegahan yang dapat dilakukan yaitu melakukan identifikasi pasien diabetes yang berisiko mengalami infeksi kaki dengan cara pasien diabetes harus rutin melakukan pemeriksaan kaki tahunan yang dilakukan oleh para ahli medis di bidangnya. Hal lain yang dapat dikontrol secara pribadi oleh pasien diabetes ialah berhenti merokok bila melakukannya serta mengontrol asupan glukosa berlebih. Pengobatan yang efektif untuk penyakit infeksi ini antara lain, yang pertama merupakan terapi antibiotik, terapi ini berguna untuk membantu neutrophil (imun tubuh) dalam membunuh pathogen (bakteri) yang ada pada bagian terinfeksi. Selanjutnya dilakukan pembedahan bila infeksi sudah terlanjur tidak tertolong dengan terapi antibiotik, prosedur pembedahan pada infeksi kaki diabetik berupa sayatan sederhana, drainase, debridement hingga amputasi. Dan pengobatan yang terakhir ialah manajemen luka, yaitu dengan pembalutan luka menggunakan gips ataupun bidai selain itu melakukan elevasi kaki pasien serta pemberian stoking compress untuk mengurangi edema.

Daftar Pustaka

JJ Mendes & J Neves. 2012. Diabetic Foot Infections: Current Diagnosis and Treatment. Volume 4, Issue 2, No. 1, Pages 26-45.

Nani Nani & Masrul Syafri. 2018. Diagnosis dan Tatalaksana Klaudikasio Intermiten. Fakultas Kedokteran Universitas Unandaya.

Mazen S.Bader, MD, MPH. 2008. American Family Physician: Diabetic Foot Infection. , Memorial University of Newfoundland School of Medicine, St. John’s, Newfoundland, Kanada. Vol. 78, No.1.

Arif Rahman. 2012. Faktor – Faktor Risiko Mayor Aterosklerosis Pada Berbagai Penyakit Aterosklerosis Di RSUP Dr. Kariadi Semarang. Diakses pada 31 Agustus 2021, dari http://eprints.undip.ac.id/37389/1/ARIF_G2A008030_LAP.KTI.pdf

Augusta L. Arifin,dkk. Krisis Hiperglikemia Pada Diabetes Melitus. Diakses pada 31 Agustus 2021, dari http://pustaka.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2009/10/krisis_hiperglikemia_pada_diabetes_melitus.pdf

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X
Selamat Datang di Chat Dokter Online
Selamat Datang di Chat Dokter Online